Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sebanyak 60 SD di Kudus Minim Siswa, Begini Keinginan Pj Bupati Kudus Hasan

Indah Susanti • Selasa, 23 Juli 2024 | 14:00 WIB

 

BERI SEMANGAT: Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie memberikan arahan di SDN 1 Bae Kudus di hari pertama masuk sekolah kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
BERI SEMANGAT: Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie memberikan arahan di SDN 1 Bae Kudus di hari pertama masuk sekolah kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

KUDUS, RADARPATI.ID – Jumlah siswa baru di SD negeri tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan yakni per kelas 20 siswa.

Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie mengisyaratkan agar sekolah yang kekurangan siswa lebih baik digabung.

Hal inilah yang menjadi sorotan penting Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, agar sekolah negeri bisa berkualitas dan efisiensi dalam anggaran.

Menanggapi fenomena kekurang siswa, Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie, mengatakan bagi sekolah yang mendapat siswa kurang dari jumlah standar, sebaiknya digabung atau regrouping.

Itu mengingat tentang operasional sekolah, kualitas pendidikan, kemudian pemenuhan guru dan lainnya.

Maka, Disdikpora Kudus perlu memetakan sekolah mana saja yang memungkinkan untuk digabung.

”Tentunya memperhatikan hal-hal sekitarnya,” ujarnya.

Pj Bupati Hasan mengatakan, ini menjadi tren dari tahun ke tahun. Jumlah siswa baru di SDN sedikit.

Nanti akan terlihat keseluruhan jumlah siswa di Kudus pada Agustus. Karena bulan depan data masing-masing sekolah diinput ke dapodik.

Lanjut Hasan, dari situlah peta jumlah siswa SD akan diketahui. Yang tidak cukup banyak siswanya di-regrouping.

Pihaknya, meminta Disdikpora mendata sekolah harus lengkap. Agar keputusan gabung sekolah itu tepat.

Pj Bupati Hasan berharap SDN di Kudus mampu berkembang lebih baik lagi.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada mengaku saat ini masih dalam proses pendataan. Sekolah-sekolah mengisi form yang sudah disediakan Disdikpora.

Dari data yang sudah masuk, ada beberapa sekolah yang jumlah siswanya dibawah 60 siswa dari kelas I hingga kelas VI.

”Penggabungan sekolah juga memperhatikan letak geografis. Kalau lokasi hanya satu sekolah meski kekurangan siswa tetap dipertahankan,” tandasnya.

Harjuna juga mendata sekolah-sekolah yang lokasinya satu halaman.

”Mudah-mudahan bisa berjalan lancar dan sekolah dasar negeri khususnya bisa maju lebih baik lagi. Termasuk kami mendata sarprasnya,” ungkapnya.

Sementara itu untuk mengisi masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) beberapa sekolah mendeklarasi sekolah ramah anak kemarin (22/7).

Seperti di SMP 1 Bae Kudus.

Di sekolah itu dideklarasikan sebagai sekolah ramah anak. Acara digelar di halaman sekolah.

Dihadiri Penjabat (Pj) Bupati Kudus M. Hasan Chabibie beserta Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada beserta jajaran.

Deklarasi itu, diharapkan Pj Bupati Hasan semua aktivitas di sekolah di Kudus lebih edukatif.

”Jangan sampai ada bullying atau penindasan dan kekerasan di satuan pendidikan,” pesan Pj Bupati Hasan usai meninjau pelaksanaan MPLS di sekolah tersebut.

Selain itu, kata dia, semua aktivitas pendidikan yang bertujuan membentuk karakter dan kedisiplinan anak didik, juga tetap meniadakan jalan kekerasan.

Ia berharap melalui deklarasi sekolah ramah anak itu betul-betul menghadirkan karakter positif para pelajar.

Pj Bupati Kudus Hasan selain di SMP 1 Bae, juga keliling memantau MPLS di SD 1 Bae dan SD 5 Bae. Para siswa diantarkan orang tuanya.

”Kami juga berpesan kepada orang tua minimal mengetahui kepala sekolah, guru kelas, dan penjaga sekolahnya. Sehingga ketika terlambat menjemput bisa mengetahui pihak-pihak yang harus dihubungi,” ujarnya.

Kepala SMP 1 Bae Moh. Akhsanulkhaq mengungkapkan, deklarasi sekolah ramah anak itu tidak hanya diawali tanda tangan Pj Bupati Kudus, melainkan guru, dan semua siswa, termasuk siswa baru.

Selama ini, kata dia, di sekolah ini memang tidak ada aksi kekerasan fisik maupun penindasan, termasuk tugas untuk siswa baru yang memberatkan.

Sehingga berani mendeklarasikan sebagai sekolah ramah anak.

”Kakak kelas juga kami ingatkan tidak boleh melakukan kekerasan maupun penindasan. Jika terbukti akan menerima risiko berupa sanksi dari sekolah,” ujarnya.

SMP 1 Bae Kudus juga membentuk tim Satgas Anti Bullying yang melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru Mata Pelajaran (Mapel).

Sedangkan siswa dilibatkan sebagai duta anak.

Jumlah siswa di SMP Negeri 1 Bae Kudus tercatat sebanyak 756 siswa.

Sedangkan siswa baru yang per hari ini (22/7) mengikuti MPLS sebanyak 253 siswa yang terbagi delapan kelas. (san/zen)

 

 

Editor : Abdul Rochim
#kudus #sekolah dasar #sd #bupati kudus #siswa #ppdb