KUDUS, RADARPATI.ID - Di sekitar Terminal Jepara yang berdampingan dengan Pasar Kepiting terlihat banyak angkutan kota (angkot) dengan perpaduan warna cokelat dan kuning.
Ada juga angkutan desa (angkudes) biru muda yang masih mangkal pada Jumat (21/6) sekitar pukul 10.00.
Hampir semuanya lengang dari penumpang. Hanya satu atau dua unit yang diisi beberapa barang belanjaan pedagang.
Rata-rata kondisi fisik armada transportasi umum itu, usang seolah tak terurus.
Seperti cat kusam bahkan terkelupas. Saat wartawan mencoba naik salah satu angkudes, kursi maupun interior tak terurus.
Kaca terlihat merindukan guyuran air. Sementara pintu ditali menggunakan tambang plastik. Laju saat berjalan pun hanya sekitar 20-30 kilometer per jam.
Slamet, 62, sopir angkutan desa dengan rute Pecangaan-Bugel-Jepara mulanya tertidur pulas sewaktu wartawan mendekat.
Pemandangan ini, menjadi suguhan yang tak asing. Selain kongkow di warung kopi, tidur menjadi satu cara mengisi waktu menunggu calon penumpang maupun pelanggan yang masih sibuk dengan kegiatan di pasar.
Kendati anak-anak sekolah mulai berhamburan pulang, Slamet tidak terperangah lantaran tidak akan ada yang naik.
”Memang ada yang naik ke angkot, tapi bisa dihitung jari. Itu pun biasanya sudah langganan. Kebanyakan anak-anak sekolah diantar-jemput keluarga, ojek online, maupun bawa sepeda sendiri," ungkapnya.
Slamet mengaku, punya lima langganan orang pasar. ”Setelah Salat Subuh sudah mengantar. Saya berangkat dari rumah di Kecamatan Pecangaan," katanya.
Dalam sehari, Slamet tidak pasti bisa menarik berapa orang. Yang jelas mendapat Rp 150-200 ribu saja sudah cukup sebagai bekal operasional.
”Karena armada yang saya bawa angkutan desa, ngisi BBM sehari Rp 100 ribu dan perlu setor ke pemilik Rp 40 ribu per hari.
Itu pun saya narik sampai Zuhur saja, karena mau narik siapa lagi, wong sepi. Ya uang dari penumpang tergantung jauh dekatnya.
Ada yang Rp 8 ribu, ada yang ngasih Rp 20 ribu," sebut Slamet yang mengaku sudah menjadi sopir angkudes sejak 1996 silam.
Sementara itu, sopir angkot lain, Khumaidi, 53, tampak lesu saat didatangi wartawan.
Sebab, sejak pukul 08.00 hingga hampir menginjak Zuhur baru mendapat satu penumpang.
”Sekarang sangat sepi. Berbeda waktu sebelum reformasi 1998 hingga 2005-an. Saya memang wilayah kota, tapi tak punya langganan anak sekolah.
Tapi mau gimana lagi, kalau hanya diam di rumah juga tidak elok," tanggap Khumaidi yang narik di trayek Jepara-Tahunan-Ngabul.
Begitu pun dengan sopir angkot yang lain, Min, 54, yang memiliki trayek serupa Khumaidi. Dia sudah tampak kehilangan asa dengan kejayaan angkot.
”Lama-lama angkot ini seperti dokar, mati total. Kalau dokar masih lumayan bisa jadi sarana wisata dan keluar saat malam hari. Kalau angkot, jika tak dapat carteran atau langganan ya bisa gulung tikar," keluhnya.
Meski demikian, dia masih memperhatikan kondisi armada yang ia bawa. Pemerintah menurutnya sudah mendukung, seperti mengadakan uji kir gratis. Namun, itu saja tidak cukup.
Dari riwayat masanya, rata-rata armada baik angkot maupun angkudes sudah berusia di atas 20 tahun. Untuk perawatan dilakukan ala kadarnya. Asalkan surat-surat masih hidup.
”Perlu kebijakan lebih lanjut terkait dengan masa depan angkutan umum, baik dalam kota maupun desa. Kalau tidak ada perhatian ya tenggelam.
Orang-orang pasar pun juga sudah mulai menggunakan motor. Belanjaan ditaruh di keranjang," ujarnya.
Selain itu, permasalahan trayek angkot di Kabupaten Kudus, dari tahun ke tahun menjadi perbincangan tanpa solusi.
Sebab, tidak ada penanganan khusus dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Penanganan trayek angkot masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah kabupaten (pemkab), untuk menyelamatkan keberlangsungan moda transportasi umum ini.
Apalagi saat ini beberapa trayek mengalami penuhan jumlah armada, karena sepi penumpang.
Kasi Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus Muhlisin mengatakan, ada tujuh trayek angkot tidak aktif.
Meliputi, Pasar Dawe-Ternadi, Pasar Dawe-Kedungsari, Terminal Jati-Hongosoco, Terminal Jati-Gondangmanis, Terminal Jati-Sudimoro, Terminal Jati-Padurenan, dan Terminal Jati-Pasar Doro.
Padahal, semula ada 20 trayek aktif. Sekarang hanya menyisakan 13 trayek.
Sedangkan yang benar-benar berjalan hanya ada tiga trayek. Meliputi, Terminal Jati-Terminal Jetak, Terminal Jati-Colo, dan Terminal Jati-Bareng.
Sedangkan untuk armada, dulu ada sekitar 650 angkot. Sekarang yang aktif hanya sepertiganya. Sekitar 230 angkot.
Ia menyebut, permasalahan angkot tidak hanya terjadi di Kabupaten Kudus. Masalah tersebut juga terjadi di beberapa daerah lain.
Menurutnya, ada beberapa faktor permasalahan angkot. Di antaranya, setiap keluarga memiliki sepeda motor lebih dari satu.
Apalagi remaja sekolah saat ini sudah dibekali kendaraan motor.
Selain itu, menjamurnya ojek online memberikan pilihan bagi penumpang mencari kendaraan yang praktis dan murah.
Kemudian, penumpang dibuat kurang nyaman karena fasilitas angkot yang minim dan harus menunggu lama agar bisa berjalan.
Ia menjelaskan, untuk bisa mengatasi permasalahan trayek angkot perlu kerja sama antarpejabat pemerintahan.
Jika ingin mengatasi problem tersebut, pemerintah daerah mulai fokus merancang solusi.
Namun, hingga saat ini belum ada pemkab, termasuk calon bupati mengusung permasalahan trayek angkot.
Padahal, hal ini juga berdampak bagi masyarakat. Terutama masalah kemacetan lalu lintas dan nasib sopir angkot.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Kudus Mahmudun menyebut, momentum politik ini bisa dimanfaatkan calon bupati untuk membantu memberi solusi penanganan trayek angkot.
Ke depan, pemkab bisa menjangkau angkot. Untuk memberikan fasilitas dan sarana prasarana yang baik, sehingga penumpang merasa nyaman dan membangkitkan peminat angkot lagi.
”Pemerintah harus punya rencana matang untuk menyelesaikan trayek di Kabupaten Kudus. Kami tidak bisa memperkirakan angkot bisa jadi punah karena sepi,” imbuhnya. (fik/wat/lin)
Editor : Abdul Rochim