KUDUS, RADARPATI.ID – Peringatan Dies Natalis Universitas Muria Kudus (UMK) tahun ini ada yang berbeda.
Sebab, kali ini menyuguhkan hiburan berupa Kethoprak Reborn yang disutradarai Ki Wasis Wijayanto, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMK.
Acara ini semakin meriah dengan dilanjutkan pertunjukan wayang kulit kolaborasi pelawak kondang Cak Precil.
Ki Wasis yang memiliki bakat seni ini, mengaku bangga karena didapuk menjadi sutradara.
Selain itu, dia juga senang ketoprak bisa hidup di lingkungan kampus.
Sebagai kampus yang tetap melestarikan kebudayaan, UMK menampilkan pertunjukan Kethoprak Reborn dengan naskah berjudul ”Cari Apa Lagi”.
Pementaasan seni budaya tradisional Jawa yang berlangsung di Gedung Auditorium UMK kemarin malam ini, dihadiri ribuan penonton.
Kethoprak Reborn sendiri dimainkan oleh sejumlah dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa UMK, serta seniman atau pegiat teater yang masih merupakan alumni UMK.
Dengan berkolaborasi dengan Teater Tigakoma FKIP UMK, Teater Coin FEB UMK, Teater Aura FPsi UMK, tim tari dan karawitan PGSD UMK, serta komunitas teater luar kampus Teater Keset (Keluarga Segitiga Teater).
Rektor UMK Prof. Darsono menyampaikan, pementasan kesenian dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-44 UMK ini, menunjukkan bahwa UMK memiliki kapital yang baik untuk mempromosikan budaya asli Jawa.
Mulai dari kethoprak, wayang, karawitan, tari, gamelan, dan sebagainya.
”Semua ini diramu pada malam hari ini (kemarin malam, Red) untuk memberikan persamuan kepada hadirin sekalian. Bahwa di UMK juga memiliki kepedulian terhadap kebudayaan.
Kethoprak dalam hal ini bukan lagi budaya lokal, melainkan budaya global,” tuturnya.
Suasana kian pecah akan gelak tawa penonton saat bintang tamu Cak Percil Cs menampilkan aksinya.
Di antara guyonannya; ”Saya di sini dihadirkan di UMK in, karena apa? Karena dibayar.” Disambut tawa penonton.
Selain itu, dia memplesetkan kepanjangan UMK. Dari Universitas Muria Kudus menjadi Untuk Melestarikan Kebudayaan.
Precil juga mengajak bernyanyi penonton. Disambut kompak penonton. Dibalas lawan mainnya.
Tak mau kalah. Bahkan penontonnya tambah kompak dan ramai. Akhirnya balas-balasan yang justru makin menambah meriah suasana malam itu.
Usai pentas, Cak Percil yang memiliki nama asli Deni Afriandi mengaku takjub dengan antusiasme masyarakat Kudus akan pertunjukan seni dan budaya.
Mengingat, kesenian dan kebudayaan tradisional semacam kethoprak saat ini, sudah mulai banyak ditinggalkan oleh Gen Z.
”Luar biasa sekali (antusiasmenya). Penonton full. Bahkan sampai lantai II (auditorium) full penonton,” kata Cak Percil.
Dia menyampaikan apresiasinya terhadap UMK yang turut andil dalam pelestarian kesenian tradisional, dalam hal ini kethoprak.
”Tidak hanya dosen, tetapi mahasiswa juga terlibat. Bahkan ada juga pementasan karawitan dari temen-temen SMA.
Jadi dalam pertunjukan ini, UMK telah memberikan ruang serta wadah, khususnya kepada pemuda-pemuda untuk terus nguri-uri kebudayaan tradisional kita,” jelasnya.
Sebagai informasi, selain penampilan dari Cak Percil Cs dan Kethoprak Reborn, pertunjukan seni dalam rangka Dies Natalis ke-44 UMK juga dimeriahkan penampilan karawitan dari SMA 1 Bae dan SMA 1 Kudus. (san/lin)
Editor : Abdul Rochim