Komunitas Semarangker bagikan pengalamannya saat mendapat gangguan sewaktu jelajah malam eks Gedung Telekomunikasi Indonesia yang berada di Jalan Jenderal Sudirman Kudus. Suara rengekan hingga dilempar batu.
FIKRI THOHARUDIN, Kudus, Radar Kudus
SUASANA di bekas Gedung Telkom sepi dari aktivitas manusia.
Gedung yang dibangun pada 1990-an itu telah terbengkalai sejak hampir 20 tahun terakhir.
Tak ayal, langit-langit gedung berlantai tiga tersebut telah ambruk di beberapa sisi.
Saat ini pintu kerbang dalam kondisi terkunci dengan gembok. Untuk mengakses bangunan itu harus lompat.
Tanaman liar tumbuh dan merambati gedung yang konon menjadi sarang kuntilanak tersebut.
Saat wartawan Koran ini seorang diri, menilik lokasi pada Sabtu (17/2) suara burung walet menggema riuh. Timbul perasaan gugup.
Pada lantai dasar, masih dapat ditemui properti kantor seperti meja, kursi dan almari yang biasa digunakan untuk menyimpan berkas.
Tiap bilik ruangan begitu kumuh dan tembok gedung penuh dengan vandalisme.
Tepisah, Sekjend Komunitas Semarangker, Marcellino, 27, menceritakan pihaknya tertarik dengan mitos yang melekat pada gedung tersebut.
Marcel bersama dua temannya Haris, 27, dan Pangki, 32, mencoba membuktikan dengan jelajahi gedung.
Penelusuran dilakukan selama tiga jam, mulai masuk ke lokasi pukul 23.30 dan baru rampung pukul 02.30.
Saat pertama masuk Marcel mengaku langsung mendapat lemparan batu dari arah atas.
Ketika naik untuk memastikan, mereka kembali dilempar dari lantai dasar.
“Padahal tidak ada orang selain kami, itu terjadi sekitar pukul 00.30,” ujar Marcel.
Meski bimbang setelah diusili, mereka tetap melanjutkan naik ke lantai tiga.
Dibuatlah formasi dengan saling berpencar. Pencahayaan dimatikan, tanpa bersuara dan merasakan aura yang ada di dalam gedung.
Selang 20 menit dari kejadian pertama (dilempar batu, Red) terdengarlah suara perempuan merintih.
“Hi hi hi hi hi,” tirunya sambil menjelaskan suara itu berjeda-jeda.
Sontak mereka kage dan segera mengecek beberapa ruang, akan tetapi tidak ada apa-apa.
Mereka pun sempat saling berdebat karena mungkin itu suara orang dari luar.
Hingga akhirnya mereka naik ke lantai tiga. Kondisnya berbeda dari lantai bawah.
Ruangan luas dan tidak ada barang-barang. Marcel selalu mencatat waktu di saat mendapat interaksi yang diduga berasal dari makhluk gaib.
Sekitar 10 menit dari suara rintihan, terdengar suara seperti bayi merengek.
“Suaranya antara mau nangis atau ketawa, kayak dililing gitu,” terangnya.
Mereka pun bingung, karena mengecek ke ruang-ruang sampai belakang gedung pun tidak ada siapa-siapa.
Sejak 10 tahun lalu, Marcel telah terbiasa dengan kejadian seperti itu di jelajah malam yang dilakukan oleh anggota Semarangker.
Tapi menurutnya rasa penasaran perlu diimbangi perasaan fun dan upaya melawan rasa takut.
Soal mitos omah kuntilanak, Marcel dan temannya tidak menemukannya.
Meski demikian ia meminta untuk saling menghargai bahwa gaib itu ada.
“Cukup berpikir positif dan be smart. Karena makhluk halus bisa memvisualisasi apa yang kita pikirkan,” tandasnya. (*/him)
Editor : Achmad Ulil Albab