Ada Kehangatan di Luar Arena Muktamar ke-35 NU di Jombang

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:24 WIB
Ketua PC GP Ansor Kudus Arif Musta
Ketua PC GP Ansor Kudus Arif Musta'in (dua dari kiri).

JOMBANG - PC GP Ansor Kudus yang dikomando Gus Ketua Arif Mustain turut hadir dalam perhelatan akbar Muktamar ke 35 NU di Jombang 27–31 Agustus 2026. 

Rombongan Ansor Kudus bertolak ke kota pendiri NU itu pada Kamis (27/8) malam sekitar pukul 24.00 WIB.

Ansor Kudus meluncur ke Jombang via tol Semarang-Jatim. Hingga tiba di Masjid Islamic Center Moeldoko Jombang saat waktu Subuh. 

Dari masjid itu, rombongan yang menaiki fasilitas mobil Lazisnu Kudus itu pun bergegas ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, pondok pesantren yang didirikan Hadratusyekh Hasyim As'ari. 

Baca Juga: Gus Kikin, dari Pelaut hingga Menakhodai PBNU 2026-2031

Meski pagi masih dingin, pondok sudah sangat ramai. akses menuju pondok sudah berjajar mobil berpelat dari berbagai kota. 

Memasuki gerbang juga sudah banyak pengunjung keluar masuk mengenakan atribut organisasi NU dan badan otonomnya.

Di lokasi pemakaman Hadratusyekh Hasyim pun sudah sesak. Para peziarah merapal doa bagi muasis NU dan dzuriyah di kompleks tersebut.

Termasuk mendoakan cucu Mbah Hasyim yang sangat terkenal, siapa lagi jika bukan sang pejuang kemanusiaan, KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. 

Di pemakaman itu, kami harus berdiri sejenak untuk bergantian. Bacaan tahlil rombongan Ansor Kudus tenggelam oleh ribuan pengunjung yang juga berdoa maupun berlalu lalang di sekitar makam. 

Tebu Ireng dan sekitarnya sudah sangat ramai. Banyak atribut-atribut muktamar. Padahal jarak ke pusat lokasi masih 10 kilometer. 

 Di lokasi Muktamar ke-35 NU, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, ini kami tidak khawatir menginap atau beristirahat di mana.

DI sekitar lokasi banyak sekali posko. 

Di posko itu muktamirin bisa beristirahat secara gratis. Biasanya posko itu berupa pondok pesantren, masjid, musala atau rumah penduduk yang bersedia dijadikan posko.

Kebetulan kami menempati Asrama Nur Khodijah II Ponpes Mamba'ul Ma'arif, Denanyar Jombang. 

Asrama itu ternyata didirikan pada 1982 oleh KH M. Hafidz Achmad cucu tertua Al Maghfurlah KH Bisri Syansuri. 

Asrama Nur Khodijah 2 saat ini dikelola oleh istri beliau Hj. Noor Muchibbah Rosyid didampingi oleh putra putri beliau.

Di tempat itu Gus Abdur Rosyid salah satu pengasuh asrama menyambut hangat.

Di tempat tersebut kami sempatkan istirahat sembari menikmati suguhan yang terlalu enak untuk rombongan liar muktamirin seperti kami.

Bahkan juga sudah disiapkan masakan usai salat Jumat. Padahal sebagian rombongan juga tak salat Jumat, berdalil musafir. 

Dari asrama ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak terlalu jauh. hanya 3 kilometeran.

Namun sesaknya jalan menuju lokasi membuat waktu tempuh lebih lama. 

Kami menyebut gawe muktamar ini seperti even Dandangan di Kudus.

Sepanjang jalan banyak orang berjualan. Mulai dari makanan minuman, pakaian, kaos muktamar, pernak-pernik, suvenir dan masih banyak lagi.

Banyak juga stand yang menawarkan makanan dan minuman secara gratis untuk para muktamirin.

Bahkan kami yang posisi di dalam mobil, setengah dipaksa oleh stand Muhamadiyah, untuk menerima bakso.

"Baksonya sangat enak. daging-daging tok," kata komandan Banser Kudus Al'an. 

Kami juga melihat anggota LDII banyak berjajar di perempatan memberikan nasi bungkus-bungkus. 

Jumat malam (28/8), kami menyempatkan untuk berkunjung ke Makam KH Wahab Hasbullah. pengunjungnya tak kalah ramai.

Di lokasi itu juga digelar pameran jejak Mbah Wahab dalam foto-foto bersejarah. 

Bergerak ke kanan pemandangan bertemu pada pameran lukisan. TOkoh-tokoh NU seperti KH Maimoen, Gus Dur mewarnai pameran. 

Lagi-lagi sonder njajan. Di lokasi itu masing-masing dari kami kembali ditawari sekotak roti dan kopi. Sulit bagi muktamir-out seperti kami untuk nolak.

Alhasil malam itu, kami bersykukur memandangi puluhan lukisan itu. dengan bonus segelas kopi dan roti gratis dari stand Lazisnu setempat. Barokalloh.

Belum lagi bocoran-bocoran informasi dari posko tim-tim sukses yang kami singgahi. 

Lepas dari itu, Ketua PC GP Ansor Kudus Arif Mustain menyambut baik terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.

Menurutnya, kepemimpinan baru harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali konsolidasi organisasi di berbagai tingkatan.

Gus Ketua Arif berharap kepengurusan PBNU periode 2026–2031 mampu membangun komunikasi dan koordinasi yang semakin solid, baik di internal NU maupun dengan badan otonom serta seluruh jaringan organisasi di daerah.

“Harapannya tentu dengan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU, konsolidasi organisasi semakin kuat. Mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah, sehingga gerakan NU semakin terarah dan solid,” ujar Arif.

Menurutnya, konsolidasi yang kuat penting agar berbagai potensi yang dimiliki NU dapat diarahkan untuk menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya jamaah dan warga NU.

Arif juga berharap kepemimpinan Gus Kikin tidak hanya memperkuat aspek kelembagaan, tetapi mampu mendorong lahirnya program yang konkret dan berkelanjutan.

“Yang paling penting tentu bagaimana program-program PBNU ke depan bisa memberikan manfaat yang nyata bagi jamaah, warga NU, dan juga masyarakat Indonesia secara luas,” harapnya.

Ia menilai NU memiliki basis jamaah yang besar serta jaringan organisasi yang luas. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk ikut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Terlebih, sejumlah isu strategis turut menjadi perhatian dalam Muktamar ke-35 NU. Salah satunya terkait kebijakan pemerintah dan pengelolaan anggaran pendidikan.

Dalam Bahtsul Masail Qanuniyah, Muktamar ke-35 NU memberikan perhatian terhadap penggunaan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

PBNU merekomendasikan agar pemerintah menjalankan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 40/PUU-XXIV/2026 terkait anggaran pendidikan mulai tahun anggaran 2027.

Selain persoalan anggaran pendidikan dan MBG, Muktamar juga menyoroti keberadaan pendidikan pesantren dalam RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).

Arif berharap berbagai rekomendasi hasil muktamar tersebut tidak berhenti sebagai keputusan forum, tetapi dapat diterjemahkan menjadi agenda organisasi dan advokasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Harapannya keputusan dan rekomendasi Muktamar ke-35 ini bisa dikawal dan diterjemahkan dalam program-program yang nyata. Sehingga keberadaan NU benar-benar dirasakan manfaatnya oleh jamaah dan bangsa Indonesia,” tandasnya.

Terpilihnya Gus Kikin diharapkan menjadi awal konsolidasi baru bagi PBNU.

Dengan dukungan struktur organisasi dan jaringan pesantren yang luas, kepengurusan 2026–2031 diharapkan mampu membawa NU semakin kuat dalam menjalankan khidmah untuk umat dan bangsa. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
Muktamar ke-35 NU Gus Kikin Ketua Umum PBNU Arif Mustain gp ansor kudus