Benarkah Allah Turunkan Bala di Rebo Wekasan? Jatuh Tanggal Berapa?

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:55 WIB
Ilustrasi Rebo Wekasan
Ilustrasi Rebo Wekasan

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Hari Rabu terakhir di bulan Safar atau yang populer dengan sebutan Rebo Wekasan (Rebo Pungkasan) tahun ini bertepatan dengan Rabu, 12 Agustus 2026 (28 Safar 1448 H). Momen ini kerap diwarnai beragam ritual dan tradisi penolak bala oleh sebagian masyarakat, khususnya di Pulau Jawa.

Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, di mana "Rebo" berarti hari Rabu dan "wekasan" bermakna akhir atau penutup. Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah (diapit Muharram dan Rabiulawal) yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Sapar (diapit Suro dan Mulud).

 

Latar Belakang Tradisi dan Literatur Pembentuk

Keyakinan mengenai turunnya marabahaya pada akhir Safar tercantum dalam sejumlah kitab, salah satunya Kanz an-Najah wa al-Surur karya KH Abdul Hamid—ulama Makkah yang sempat bermukim di Semarang dan Kudus.

Sebagaimana diulas dalam Jurnal THEOLOGIA (Farida, 2019), kitab tersebut mengutip pandangan sebagian ahli kasyf (spiritual) yang menyebutkan bahwa Allah SWT menurunkan 320.000 bencana pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Sebagai ikhtiar pencegahan, masyarakat menggelar ritual ibadah dan tradisi kebudayaan.

Di Kudus, Jawa Tengah, misalnya, masyarakat menunaikan salat sunah mutlak empat rakaat. Pada tiap rakaat dibaca Al-Fatihah, Al-Kautsar (17 kali), Al-Ikhlas (5 kali), Al-Falaq (1 kali), dan An-Nas (1 kali). Rangkaian ibadah ini umumnya ditutup dengan doa tolak bala, pembacaan Surah Yasin, serta tradisi minum Air Salamun.

Tinjauan Syariat: Tidak Ada Kesialan dalam Bulan Safar

Secara normatif-normatif keagamaan, anggapan bahwa Rebo Wekasan membawa sial atau bencana tidak memiliki dasar dari nash Al-Qur'an maupun hadis sahih. Anggapan bulan Safar sebagai periode pembawa nasib buruk sejatinya merupakan mitos lama yang mengakar sejak era Jahiliyah.

Baca Juga: Kapan Rebo Wekasan? Cek Tanggal, Amalan dan Doa

Rasulullah SAW secara tegas membantah anggapan tersebut dalam hadis shahih riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA:

{لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ}
 
Artinya: "Tidak ada penyakit menular (yang berpindah dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial pada sesuatu), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari)

Selain itu, ajaran Islam melarang umatnya mencela waktu maupun periode tertentu. Sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Muslim: "Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah (pencipta) masa."

Para ulama menegaskan bahwa amalan yang dikerjakan pada Rebo Wekasan—seperti doa, salat sunah mutlak, dan sedekah—hendaknya diniatkan murni sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dan permohonan perlindungan umum, tanpa meyakini adanya ketetapan syariat khusus yang mengikat pada hari tersebut. (*)

Editor : Admin
amalan rebo wekasan doa rebo wekasan kapan rebo wekasan tanggal berapa Rebo Wekasan