Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

NISFU SYA'BAN: Perbedaan Pandangan Ulama hingga Menata Hati Jelang Ramadan

Abdul Rochim • Senin, 2 Februari 2026 | 19:33 WIB
Nisfu Sya
Nisfu Sya

RADAR PATI – Tidak semua malam istimewa datang dengan gegap gempita. Nisfu Syaban justru hadir dalam keheningan, nyaris tanpa penanda seremonial.

Tak ada takbir keliling, tak pula agenda libur nasional. Namun bagi banyak umat Islam, malam pertengahan bulan Syaban menyimpan makna spiritual yang dalam.

Berdasarkan Kalender Hijriah Kementerian Agama, tanggal 15 Syaban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 3 Februari 2026. Artinya, malam Nisfu Syaban mulai berlangsung sejak Senin petang, 2 Februari 2026, selepas matahari terbenam.

Pada waktu inilah sebagian umat Islam memilih memperbanyak ibadah malam, mulai dari sholat sunnah, dzikir, hingga doa-doa personal.

Nisfu Syaban, Momentum Introspeksi Diri

Dalam sejumlah riwayat, malam Nisfu Syaban dikenal sebagai waktu dilimpahkannya ampunan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Namun, ampunan tersebut disebut tidak mencakup mereka yang masih terjerat kemusyrikan dan menyimpan dendam atau permusuhan.

Pesan ini menegaskan bahwa esensi Nisfu Syaban tidak semata terletak pada ritual ibadah, melainkan pada upaya membersihkan hati.

Malam ini kerap dimaknai sebagai ajang refleksi—menata ulang hubungan dengan Allah dan memperbaiki relasi dengan sesama—sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Perbedaan Pandangan Ulama soal Amalan

Literatur Islam klasik mencatat beragam pandangan mengenai amalan di malam Nisfu Syaban.

Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, menganjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan sholat sunnah dalam jumlah banyak disertai bacaan tertentu.

Pandangan ini menunjukkan keyakinan akan keutamaan Nisfu Syaban sebagai waktu mendekatkan diri kepada Allah.

Di sisi lain, sejumlah ulama hadits seperti Ibnu Dihyah menilai tidak ada dalil shahih yang secara tegas menetapkan sholat khusus Nisfu Syaban dengan tata cara tertentu.

Beberapa riwayat yang beredar dinilai lemah dari sisi periwayatan.

Khilafiyah yang Tetap Bernilai

Perbedaan pendapat tersebut menempatkan amalan Nisfu Syaban dalam wilayah khilafiyah. Artinya, tidak bisa dipaksakan sebagai kewajiban, namun juga tidak layak disingkirkan sepenuhnya.

Banyak ulama terdahulu tetap menghidupkan malam ini dengan ibadah tanpa mengklaim keharusan tertentu.

Ibnu Taimiyah mengambil posisi moderat. Ia menyatakan bahwa sholat sunnah pada malam Nisfu Syaban, baik dilakukan sendiri maupun berjamaah, termasuk perbuatan baik selama diniatkan sebagai ibadah sunnah, bukan ritual wajib dengan aturan baku.

Waktu dan Bentuk Ibadah yang Fleksibel

Pada tahun 2026, malam Nisfu Syaban dapat dimanfaatkan sejak Senin malam, 2 Februari, hingga menjelang Subuh keesokan harinya. Umat Islam diberi kebebasan memilih bentuk ibadah sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing—sholat sunnah, tahajud, membaca Al-Qur’an, dzikir, atau berdoa.

Tidak ada ketentuan jumlah rakaat yang mengikat. Kualitas kekhusyukan jauh lebih utama dibanding kuantitas ibadah.

Niat dan Doa yang Menjadi Inti

Bagi yang melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, niat cukup dihadirkan dalam hati sebagai ibadah karena Allah Ta’ala, dengan tata cara seperti sholat sunnah pada umumnya.

Sementara itu, sholat tahajud tetap menjadi pilihan aman bagi mereka yang ingin beribadah dengan landasan dalil yang kuat.

Doa-doa yang biasa dipanjatkan pada malam Nisfu Syaban umumnya berisi permohonan ampun, kelapangan rezeki, serta keteguhan dalam menjalani jalan kebaikan. Substansinya adalah pengakuan atas keterbatasan manusia dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Jeda Spiritual di Tengah Kesibukan

Di era modern yang serba cepat, Nisfu Syaban menawarkan ruang hening yang semakin langka. Ia menjadi titik berhenti sejenak untuk menata niat, menenangkan batin, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Bukan tentang siapa yang paling banyak melakukan ibadah, melainkan siapa yang paling jujur menilai dirinya sendiri di hadapan Tuhan.

Editor : Abdul Rochim
#Nisfu Sya'ban #perbedaan pandangan ulama tentang nisfu syaban #ramadan