KHAZANAH - Acara Suluk Maleman kembali digelar dan memasuki edisi ke-169 yang sekaligus menandai usia ke-14 penyelenggaraannya.
Pada momentum tersebut, Suluk Maleman mengangkat tema “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan”, yang digelar pada Sabtu (24/1) malam.
Tema ini dipilih sebagai respons atas kondisi peradaban global yang kian carut-marut, sekaligus menegaskan konsistensi Suluk Maleman selama 14 tahun tanpa jeda dalam mengajak masyarakat untuk merenungi diri dan lingkungan sekitarnya.
Selama 169 episode, ngaji budaya yang diinisiasi Anis Sholeh Ba’asyin itu terus menjadi ruang refleksi bersama.
Dalam pengajian tersebut, Anis Sholeh Ba’asyin kembali menegaskan pentingnya setiap individu menemukan “suluh” atau cahaya di tengah peradaban yang semakin menjauh dari nilai dan tatanan.
Ia menyoroti kondisi dunia yang kian mengabaikan hukum dan aturan, lalu menggantinya dengan kuasa dan kekuatan semata.
“Bahkan menyebut peradaban kita sebagai hukum rimba pun sebenarnya tidak tepat. Hukum rimba justru berjalan sesuai tatanan alamiah yang pasti dan tetap, sesuai sunatullah. Semua penghuninya tunduk pada tatanan itu. Istilah raja hutan sejatinya tidak pernah ada, itu hanya istilah ciptaan manusia,” ujar Anis membuka dialog.
Ia menjelaskan, istilah tersebut muncul dari persepsi manusia yang menganggap yang kuat pasti berkuasa.
Singa atau harimau kemudian dibayangkan sebagai raja hutan, padahal anggapan itu lebih mencerminkan kecenderungan manusia, bukan realitas alam.
“Tak heran jika tatanan dan hukum buatan manusia sering kali justru mengabdi pada kelompok kuat dan menindas yang lemah. Aturan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti kehendak pemegang kuasa. Dari sinilah kegelapan terus diproduksi dan kini nyaris mencapai titik yang mengancam kelangsungan hidup kita semua,” tegas budayawan asal Pati tersebut.
Dalam situasi demikian, Anis menekankan pentingnya mengoptimalkan kembali tiga laku utama, yakni dzikir, tafakur, dan akal.
Ketiganya diyakini menjadi jalan bagi manusia untuk memperoleh bimbingan dan cahaya dalam menjalani kehidupan.
“Ketiganya harus dilakukan secara terus-menerus agar kita tidak terseret ke dalam kegelapan. Bukankah Al-Qur’an mengingatkan kita dengan afala tadzakkarun, afala tatafakkarun, afala ta’qilun?” tutur Anis.
Ia menjelaskan, dzikir bermakna mengingat atau mengenang, yang selalu merujuk pada pengalaman terdalam manusia. Kenangan terjauh ruh manusia adalah saat berada di alam alastu, ketika Allah mengambil persaksian alastu birobbikum.
“Esensi dzikir adalah menghadirkan kembali kesadaran bahwa hidup kita harus selalu berada dalam bimbingan-Nya. Tanpa bimbingan itu, hidup tidak akan pernah benar-benar beres,” jelasnya.
Menurut Anis, makna Rabb sendiri mencakup pembimbingan yang bertahap dari satu fase ke fase berikutnya.
Karena itu, kegelapan yang terjadi hari ini merupakan dampak dari pengabaian terhadap bimbingan Ilahi.
Metode kedua, tafakur, dimaknai sebagai perenungan atas pola dan gejala kehidupan. Dari tafakur itulah lahir hikmah dan pemaknaan yang mendalam.
“Dengan banyak merenung, manusia akan sadar bahwa ia tidak berhak mengklaim kebenaran mutlak. Kebenaran sepenuhnya milik Allah. Tanpa tafakur, manusia mudah lalai, apalagi ketika memiliki kuasa,” ungkapnya.
Adapun metode ketiga adalah ta’qilun, yang oleh Anis dimaknai sebagai kemampuan menyimpulkan secara utuh.
Ia menjelaskan bahwa aql dalam bahasa Arab juga berarti simpul, sehingga kesimpulan harus dibangun dari data dan proses yang berjenjang, tanpa lompatan.
“Banyak persoalan muncul dari persepsi yang dibentuk secara tergesa-gesa, apalagi di era media sosial yang serupa pasar malam. Karena itu, kita perlu membangun pengetahuan yang otentik dari nurani, dengan tidak terburu-buru dalam menyimpulkan,” ujarnya.
Anis mengingatkan, tanpa mengembalikan ketiga laku tersebut pada fitrahnya, manusia akan sulit menemukan suluh dan justru semakin tenggelam dalam kegelapan.
“Jangan memusuhi saudaramu, bangsamu, atau siapa pun. Jangan menciptakan konflik, karena yang diuntungkan pasti pihak ketiga,” pesannya.
Ia juga mengutip pesan Imam Ghazali agar manusia tidak hanya mengandalkan salat dan wirid, tetapi juga memperbanyak perbuatan baik kepada sesama.
“Jangan sampai kita rajin ibadah, tetapi justru menghina, menindas, dan menginjak-injak orang lain,” tambahnya.
Perenungan mendalam itu disambut antusias oleh ratusan peserta yang hadir langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia maupun yang menyimak melalui berbagai kanal media sosial.
Suluk Maleman edisi Januari ini kian semarak dengan pertunjukan wayang sampah oleh Gagego Musik Kampung bersama dalang Ki Slamet Riyanto, serta penampilan Sampai GusUran yang menambah kekhidmatan acara. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab