KHAZANAH - Rumah joglo dikenal memiliki ciri konstruksi khas berupa empat tiang utama yang disebut saka guru.
Menurut Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, struktur bangunan tradisional Jawa ini menyimpan pesan simbolik mendalam tentang peradaban muslim Jawa yang perlu dicermati bersama.
Pandangan itu disampaikan Anis saat membuka kegiatan Suluk Maleman bertema “Robohnya Saka Guru Rumah Kami” di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/12) malam. Kegiatan pengajian bulanan tersebut digelar melalui kerja sama dengan Indonesia Kaya.
Baca Juga: Suluk Maleman Edisi 167 : Manusia Bukan Sumber Kebenaran
Secara denotatif, istilah “rumah” berasal dari kosa kata Proto-Austronesia rumaq, yang bermakna tempat berlindung atau bernaung.
Di dalam rumah joglo, empat saka guru berfungsi menopang atap serta seluruh sisi bangunan agar mampu melindungi penghuninya.
Namun, menurut Anis, makna rumah juga dapat dibaca secara konotatif sebagai bangunan sosial.
Jika ditarik dalam pemahaman luas ini, maka kehadiran empat saka guru melambangkan unsur penopang utama tatanan masyarakat, yang berfungsi menaungi seluruh anggotanya.
Baca Juga: Membincang Tuhan, Agama, dan Sains di Forum Suluk Maleman
Budayawan asal Pati itu kemudian menautkan makna simbol empat saka guru dengan ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali.
Ungkapan tersebut menyebutkan bahwa kokohnya kehidupan dunia ditopang oleh empat hal: ilmu para ulama, keadilan pemimpin, kedermawanan orang kaya, dan doa orang fakir.
Dari pandangan ini, Anis menegaskan bahwa rumah joglo menyimpan pesan tersirat tentang struktur masyarakat ideal.
Tatanan sosial hanya akan berdiri kokoh bila empat penyangga tersebut hadir secara utuh dan seimbang. Jika salah satu tiang melemah, maka struktur kehidupan bersama pun akan terancam roboh.
Menurut Anis, ulama disebut pertama bukan tanpa alasan. Posisi ulama menunjukkan bahwa tatanan sosial harus dibangun berdasarkan ilmu.
Ia menegaskan bahwa ilmu ulama jauh lebih utama dibanding kuasa politik. Istilah ulama, kata Anis, bukan hanya merujuk pada ahli agama, namun juga mencakup seluruh bentuk ilmu pengetahuan.
Ia menyinggung fenomena yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise atau matinya kepakaran, yang lahir dari maraknya media sosial lalu berkembang menjadi bagian dari rekayasa kekuasaan.
Fenomena ini menyebabkan ilmu para ahli mulai tersingkir dan digantikan narasi menyesatkan yang disuarakan pihak tidak berilmu.
Baca Juga: Ngaji Suluk Maleman: Rakyat Bukan Ancaman, Pemerintah Harus Dengar Suara Publik
Ketika tiang ilmu melemah, kata Anis, maka pilar berikutnya—keadilan—akan sulit terwujud.
Tanpa ilmu, batas antara adil dan dzolim menjadi kabur sehingga pemimpin mudah dikendalikan kepentingan, baik kepentingan pribadi, kekuasaan global, hingga kekuatan ekonomi besar seperti oligarki.
Hal serupa juga terjadi pada tiang ketiga, yakni peran orang kaya. Alih-alih menebar kemakmuran, mereka justru cenderung memakai kekayaan untuk memperkuat posisi dan kekuasaan.
Ia mencontohkan kondisi kekayaan dunia yang dikuasai segelintir orang, sementara mayoritas lainnya berebut sisa kecil yang tersedia.
Padahal dalam sejarah bangsa, peran saudagar muslim pernah menjadi penggerak kemerdekaan melalui Serikat Dagang Islam.
Baca Juga: Suluk Maleman : Kedzoliman Mencipta Kegelapan
Ketika tiga pilar awal melemah, maka tiang keempat—doa orang fakir—ikut terdampak. Bukannya menjadi penopang, kelompok fakir justru menjadi korban ketidakadilan sosial.
Anis menyimpulkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan empat saka guru saat ini tidak berdiri dengan nyata.
Yang hadir hanya tiruan artifisial yang tidak mampu menopang kehidupan sosial secara utuh. Karena itu, dunia terus berada dalam konflik dan pertentangan yang tidak berkesudahan.
Sebagai jalan perbaikan, Anis menilai tidak ada cara tunggal untuk menegakkan kembali empat pilar tersebut.
Namun masyarakat dapat memulainya dari ruang lingkup kecil, salah satunya dengan menata akhlak.
“Akhlak terbentuk dari latihan yang dilakukan terus menerus. Dari akhlak lahirlah adab, dan dari adab terwujud peradaban,” tegasnya. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab