Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Suluk Maleman Edisi 166: Peradaban Itu Bermula dari Rumah

Achmad Ulil Albab • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 16:59 WIB

 

Suluk Maleman edisi ke-116 menghadirkan tema Sejarah Dimulai dari Rumah. (DOK SULUK MALEMAN)
Suluk Maleman edisi ke-116 menghadirkan tema Sejarah Dimulai dari Rumah. (DOK SULUK MALEMAN)

 

PATI - Suluk Maleman edisi ke-166 kembali menghadirkan perbincangan hangat dengan tema “Sejarah Dimulai dari Rumah”. Gelaran ngaji budaya yang dilaksanakan pada Sabtu (18/10) ini menyoroti peran ibu sebagai pusat lahirnya peradaban.

Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menyampaikan bahwa hadis “surga berada di bawah telapak kaki ibu” tidak hanya dipahami dari sudut pandang seorang anak kepada ibunya.

Ia melihatnya dari perspektif bagaimana seorang ibu mempersiapkan “surga” bagi anak-anaknya.

“Cara seorang ibu mendidik anak akan sangat menentukan keselamatan dan masa depan anak, baik di dunia maupun akhirat,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Anis, perempuan harus mendapatkan pendidikan yang baik sebab ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Ia kemudian menyinggung syair Kahlil Gibran yang menggambarkan anak sebagai anak panah yang dilepaskan.

Menurutnya, makna sastra tersebut bukan soal perpisahan orang tua dengan anak, tetapi bagaimana orang tua mempersiapkan arah dan dasar nilai anak sebelum ia melangkah ke masa dewasa.

Lebih jauh, Anis menyoroti pemahaman emansipasi yang sering keliru.

Emansipasi justru kerap dipersempit pada kebebasan perempuan bekerja, hingga mengabaikan peran pengasuhan.

Padahal, menurutnya, esensi emansipasi adalah pendidikan—keterdidikan yang memberikan pengaruh besar pada keluarga dan generasi berikutnya.

Namun, ia menyadari kondisi sosial saat ini banyak dipengaruhi sistem kapitalisme yang menuntut kedua orang tua bekerja demi memenuhi standar ekonomi yang kian tinggi.

Akibatnya, perhatian pada anak sering tergantikan oleh gawai yang tidak dapat diawasi secara penuh.

Nilai yang dulu didapat melalui interaksi langsung kini justru masuk tanpa penyaringan melalui layar.

“Dulu orang tua bisa tahu dengan siapa anak bermain. Sekarang nilai dari luar bisa masuk ke rumah tanpa kendali,” ujarnya.

Karena itu, Anis menegaskan bahwa peradaban seharusnya dimulai dari rumah. Sikap orang tua dalam menghadapi berbagai situasi akan sangat menentukan arah moral generasi mendatang.

Ia memberi contoh, jika suatu hari anak membawa uang hasil tindakan tidak benar, keputusan orang tua dalam menyikapinya akan menjadi cerminan nilai keluarga tersebut.

Budayawan asal Kudus, Dr. Abdul Jalil, turut memberikan pandangan. Menurutnya, Imam Al-Ghazali pernah mengajarkan urutan prioritas hidup: Ketuhanan, agama, kecerdasan, harta, lalu keluarga.

Namun saat ini urutan itu justru terbalik—kapital menjadi yang utama, sementara nilai ilahiah berada di akhir.

Ia menilai sistem kapitalisme menjadikan harta sebagai tolok ukur keberhasilan, sehingga perlu ada upaya membangun kembali kesadaran nilai keluarga sebagai inti pembentukan karakter.

“Peradaban harus dimulai dari keluarga, bahkan dari keluarga terkecil. Nilai yang disepakati bersama perlu dijaga, dan itu harus berkelanjutan dari rumah, keluarga besar, hingga lingkungan pendidikan,” jelasnya. (aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#ngaji budaya #Anis Sholeh Ba’asyin #sejarah #suluk maleman #peradaban