Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Ngaji Suluk Maleman: Rakyat Bukan Ancaman, Pemerintah Harus Dengar Suara Publik

Achmad Ulil Albab • Selasa, 23 September 2025 | 20:49 WIB

 

Ngaji Suluk Maleman.
Ngaji Suluk Maleman.

 

KHAZANAH - Isu politik, baik di dalam negeri maupun internasional, menjadi pokok bahasan dalam forum Ngaji NgAllah Suluk Maleman bertajuk “…Dan Udara Pun Beracun…” yang digelar pada Sabtu (20/9). Dalam kondisi serba tidak menentu seperti sekarang, seluruh pihak diingatkan agar mampu meninjau kembali posisi dan sikapnya.

Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menilai sejumlah pergerakan sosial yang muncul belakangan ini lahir secara organik dari keresahan masyarakat, bukan rekayasa kelompok tertentu.

Menurutnya, aksi-aksi rakyat adalah tanda bahwa saluran aspirasi sudah tidak lagi memadai.

“Jangan menganggap aksi itu hanya sekadar noise atau kebisingan. Itu adalah kode bahwa ada persoalan serius di tengah masyarakat. Jika suara-suara itu justru dibungkam, ia akan menumpuk dan berpotensi meledak besar,” tegas Anis.

Ia mengingatkan pemerintah untuk tidak terus-menerus berupaya menguasai atau membungkam rakyat. Kondisi masyarakat, kata Anis, bagaikan “raksasa tidur” yang tak boleh dibuat marah.

“Kita beruntung tidak sampai seperti Nepal. Karena itu, pemerintah harus bijak dalam membuat kebijakan dan tidak menuduh rakyat memusuhi negara atau pejabat. Sesungguhnya mereka hanya ingin didengar,” ujarnya.

Menurut Anis, aksi massa kerap muncul ketika ketidakadilan sangat terasa, apalagi di era media sosial.

Situasi sulit seperti sulitnya mencari pekerjaan, maraknya PHK, dan ketimpangan sosial membuat masyarakat semakin peka terhadap praktik korupsi.

“Ketidakadilan adalah bentuk kekerasan pertama, dan akan melahirkan kekerasan-kekerasan berikutnya,” tambahnya.

Ia juga mengkritik perilaku politisi yang cenderung memperlakukan rakyat hanya sebagai objek jual-beli suara saat pemilu. Setelah terpilih, ikatan dengan rakyat seakan terputus. “Uang akhirnya menjadi segalanya, dan penguasaan ekonomi dipandang bisa menyelesaikan semua masalah,” kata Anis.

Terkait perampasan buku yang sempat diduga sebagai pemicu aksi massa, Anis menegaskan bahwa sumber persoalan sejatinya bukan pada buku, melainkan pada ketidakadilan. “Kalau keadilan terwujud, buku tidak akan melahirkan pergerakan,” ucapnya.

Meski demikian, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terutama di era kecerdasan buatan (AI) yang rawan disusupi informasi menyesatkan.

Ia mencontohkan munculnya deep fake yang menyerang sejumlah tokoh, termasuk Sri Mulyani, untuk memancing kemarahan publik.

“Karena itu, jagalah kedaulatan pikiran. Kita boleh bermedia sosial sebagai hiburan, tapi gunakan dengan bijak dan pada porsi yang tepat,” tutup Anis. (aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#ngaji budaya #Anis Sholeh Baasyin #politik #suluk maleman