PATI - Suluk Maleman edisi ke-164 yang digelar pada Sabtu (16/8) berlangsung dalam suasana istimewa.
Bertepatan dengan malam tirakatan jelang HUT ke-80 Republik Indonesia, forum ini mengajak masyarakat merenungi kembali makna sejati kemerdekaan.
Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menekankan bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang terjadi pada 17 Agustus 1945.
Ia mengingatkan, kala itu Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia, bukan negara.
Sebab negara Republik Indonesia baru lahir sehari kemudian, pada 18 Agustus.
“Ini artinya bangsa adalah pemilik saham mutlak berdirinya negara. Bangsa yang melahirkan negara, lalu negara mendelegasikan sebagian fungsi pelaksanaannya kepada pemerintah,” ujar Anis.
Menurutnya, kesadaran ini penting agar siapa pun yang diberi amanah mengelola pemerintahan tidak melupakan asal-usulnya.
Pemerintah sejatinya hanyalah representasi rakyat, bukan entitas yang berdiri sendiri.
Jika lupa pada asalnya, negara dan pemerintah bisa berubah menjadi institusi yang terputus dari rakyat, bahkan rawan dibajak untuk kepentingan segelintir orang.
Untuk menggambarkan hal itu, Anis menyinggung teladan Rasulullah yang memilih hidup sederhana, dekat dengan umatnya.
“Beliau hidup di samudra tempat sebagian besar umat berada. Dengan cara itu, mustahil beliau membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya,” jelasnya.
Ia juga menyinggung praktik di negara modern seperti Swedia, di mana pejabat publik tidak diberi fasilitas mewah.
Siapa pun yang memilih jalan politik harus siap hidup bersama rakyat dan merasakan apa yang rakyat rasakan, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak akan menyusahkan mereka.
“Seorang pemimpin harus hidup di dalam dan bersama rakyat, bukan sekadar mengatasnamakan rakyat tapi tinggal di menara gading,” tegas Anis.
Selain soal asal, Anis juga mengingatkan tentang tujuan bernegara yang telah jelas tertuang dalam UUD 1945, mulai dari mencerdaskan kehidupan bangsa hingga menyejahterakan rakyat.
Ia menilai, menjelang peringatan kemerdekaan ke-80, banyak peristiwa yang semestinya menjadi bahan renungan.
Salah satunya adalah fenomena maraknya pengibaran bendera bajak laut topi jerami—ikon anime One Piece.
Menurut Anis, fenomena ini bisa dibaca sebagai tanda kebangkitan kesadaran nasional baru, khususnya di kalangan generasi muda.
Jika dahulu para pendiri bangsa terinspirasi oleh buku-buku pergerakan, kini anak-anak muda menemukan inspirasi perjuangan melalui anime yang mereka tonton.
Di sisi lain, gelombang demonstrasi besar di Pati pada 13 Agustus lalu menunjukkan kesadaran rakyat akan posisinya sebagai pemilik sah negara.
Rakyat, kata Anis, sudah tidak mau lagi menjadi obyek kebijakan yang justru menyulitkan mereka.
Keresahan semakin terasa ketika negara dianggap hadir lebih sebagai beban—dengan pajak yang semakin menekan, pemblokiran rekening, hingga sempitnya lapangan kerja.
“Catatan sejarah sudah membuktikan, betapa pun besarnya sebuah kerajaan atau negara, keruntuhannya selalu diawali dengan pajak yang mencekik rakyat,” pungkas Anis. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab