RADARPATI.ID - KANKER ovarium, yang menyerang jaringan indung telur, sering terjadi pada wanita pascamenopause atau lanjut usia.
Meskipun begitu, wanita yang masih dalam usia produktif pun tidak luput dari risiko.
Hingga kini, penyebab pasti kanker ovarium belum dapat dipastikan.
Namun, wanita dengan riwayat keluarga penderita kanker ovarium memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya.
Kanker ovarium dibagi menjadi empat stadium, dan penanganan pada stadium awal (stadium 1) akan lebih efektif dibandingkan jika kanker baru terdeteksi pada stadium lanjut.
Oleh karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis kandungan sangat dianjurkan bagi wanita dengan risiko tinggi terkena kanker ovarium.
Gejala Kanker Ovarium
Pada tahap awal, kanker ovarium biasanya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kebanyakan kasus baru terdeteksi saat sudah menyebar ke organ lain.
Gejala yang muncul pun sering kali mirip dengan penyakit lain. Beberapa gejala yang umum dirasakan penderita kanker ovarium meliputi:
- Nyeri perut
- Perut kembung dan bengkak
- Mual
- Cepat kenyang
- Konstipasi atau perubahan frekuensi BAB
- Penurunan berat badan
- Frekuensi buang air kecil meningkat
- Nyeri saat berhubungan seks
Penyebab Kanker Ovarium
Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, kanker ovarium diduga terjadi karena mutasi genetik.
Mutasi itulah yang menyebabkan sel-sel normal di ovarium berkembang menjadi abnormal dan berubah menjadi sel kanker.
Sel-sel kanker ini dapat menyerang jaringan di sekitarnya dan menyebar ke organ lain.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium meliputi:
- Wanita pascamenopause
- Kebiasaan merokok
- Terapi hormon saat menopause
- Riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara
- Obesitas
- Pernah menjalani radioterapi
- Riwayat endometriosis atau kista ovarium jenis tertentu
Pencegahan Kanker Ovarium
Karena penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui, pencegahan langsung masih sulit dilakukan.
Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko:
- Menggunakan kontrasepsi seperti pil KB
- Mengonsumsi sayuran, vitamin A, dan vitamin C
- Menerapkan pola hidup sehat dan tidak merokok
- Menjaga berat badan ideal
- Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan
- Pada wanita berisiko tinggi, operasi pengangkatan ovarium bisa menjadi pilihan jika tidak berencana memiliki keturunan.
Untuk informasi lebih lanjut, dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. (*)
Editor : Abdul Rochim