7 Khodam Weton Disebut Punya Tuah Khusus Menurut Primbon Jawa

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 07:45 WIB
Khodam weton menurut Primbon Jawa. (AI/ABD. ROCHIM)
Khodam weton menurut Primbon Jawa. (AI/ABD. ROCHIM)

RADAR PATI – Weton dalam tradisi Jawa tidak hanya digunakan untuk menandai hari kelahiran seseorang.

Dalam sejumlah penafsiran Primbon Jawa, weton juga dikaitkan dengan karakter, keberuntungan, kepekaan batin hingga potensi tertentu yang dipercaya melekat sejak lahir.

Salah satu pembahasan yang cukup populer adalah mengenai khodam atau energi pendamping yang dalam kepercayaan metafisika Jawa dikaitkan dengan weton tertentu.

Baca Juga: 8 Weton Tibo Gedhong Menurut Primbon Jawa, Konon Dikaitkan dengan Kemakmuran

Namun, berbagai penafsiran tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. 

Tidak terdapat dasar ilmiah yang membuktikan bahwa weton atau khodam dapat menentukan rezeki, karakter maupun masa depan seseorang.

Dalam sejumlah versi primbon, kelompok weton kemudian dikaitkan dengan beberapa simbol atau rumpun energi. Berikut di antaranya:

1. Idu Geni dan Sabdo Dadi

Kelompok ini dalam penafsiran metafisika Jawa dikaitkan dengan kekuatan lisan dan ketajaman firasat.

Pemilik weton tertentu dipercaya memiliki kemampuan berbicara yang kuat serta doa atau perkataannya dianggap memiliki tuah.

Karena itu, pemilik weton dalam kelompok ini juga dipercaya perlu menjaga ucapan dan menghindari perkataan buruk.

Weton yang disebut masuk dalam kelompok Idu Geni dan Sabdo Dadi antara lain:

Dalam kepercayaan tersebut, kebiasaan berbohong, mengingkari janji atau mengucapkan sumpah sembarangan dianggap sebagai pantangan.

2. Macan Putih dan Macan Bumi

Rumpun Macan Putih dan Macan Bumi dikaitkan dengan simbol keberanian, kewibawaan dan ketahanan menghadapi persoalan.

Orang yang lahir pada weton tertentu dalam kelompok ini dipercaya memiliki karakter tegas dan daya tahan kuat ketika menghadapi tekanan.

Dalam tafsir tradisional, mereka juga disebut mempunyai aura yang membuat orang lain segan.

Weton yang termasuk dalam kelompok ini adalah:

Kendati demikian, kekuatan tersebut dalam penafsiran primbon juga disertai pesan untuk mengendalikan emosi dan tidak menggunakan kewibawaan secara semena-mena.

3. Pengasihan dan Samudra

Kelompok berikutnya adalah Pengasihan dan Samudra.

Rumpun ini dalam tradisi Jawa dikaitkan dengan sifat teduh, mudah bergaul dan memiliki daya tarik terhadap lingkungan sekitar.

Pemilik weton yang masuk kelompok ini dipercaya lebih mudah mendapatkan simpati serta mampu menciptakan suasana nyaman bagi orang lain.

Dalam tafsir tradisional, kelompok ini juga sering dikaitkan dengan kelancaran rezeki.

Daftar wetonnya meliputi:

Pantangan yang disebut dalam penafsiran tersebut antara lain iri hati, dengki dan memutus hubungan baik dengan orang lain.

4. Pandhita dan Leluhur

Rumpun Pandhita dan Leluhur lebih banyak dikaitkan dengan ketenangan, kebijaksanaan serta kemampuan mengambil keputusan.

Dalam kepercayaan tradisional, pemilik weton kelompok ini dianggap memiliki kecenderungan berpikir lebih tenang dan tidak mudah mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

Weton yang disebut berada dalam kelompok tersebut yakni:

Dalam tafsir primbon, sifat serakah dan licik disebut sebagai hal yang perlu dihindari.

5. Naga dan Kera Putih

Kelompok Naga dan Kera Putih banyak dikaitkan dengan urusan materi, strategi dan kemampuan membaca peluang.

Simbol Naga dalam tradisi tersebut dikaitkan dengan kedudukan dan kekayaan, sedangkan Kera Putih menggambarkan kelincahan serta kecerdikan.

Weton yang disebut masuk dalam kelompok ini adalah:

Orang yang masuk kelompok ini dipercaya mempunyai kemampuan melihat peluang usaha dan beradaptasi ketika menghadapi perubahan keadaan.

Pantangannya dalam tafsir tradisional adalah sifat licik, pelit dan berkhianat.

Weton dalam Primbon Bukan Penentu Mutlak Nasib

Pembagian weton berdasarkan berbagai simbol tersebut merupakan salah satu bentuk penafsiran dalam tradisi Primbon Jawa.

Setiap daerah atau sumber primbon juga dapat memiliki pembagian dan tafsir yang berbeda.

Karena itu, weton sebaiknya dipahami sebagai bagian dari warisan budaya dan refleksi tradisional masyarakat Jawa, bukan sebagai kepastian mengenai masa depan seseorang.

Keberhasilan, rezeki dan perjalanan hidup seseorang pada kenyataannya dipengaruhi banyak faktor, termasuk pilihan, usaha, lingkungan dan kondisi kehidupan masing-masing.

Bagi masyarakat yang mempercayainya, pembahasan weton dapat menjadi sarana untuk mengenali karakter sekaligus menjadi pengingat agar potensi diri digunakan secara bijaksana. (*)

Editor : Abdul Rochim
weton pembawa rezeki weton primbon Jawa khodam weton weton punya tuah tafsir weton Jawa