RADARPATI.JAWAPOS.COM – Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton atau perpaduan antara hari lahir dan pasaran kerap digunakan untuk membaca karakter serta gambaran perjalanan hidup seseorang.
Dalam penafsiran Primbon Jawa, weton kemudian dikelompokkan ke dalam sejumlah kategori yang dikenal sebagai Tibo Weton.
Setiap kategori dipercaya memiliki gambaran berbeda, mulai dari rezeki, kecerdasan, hubungan sosial, kepemimpinan hingga kehati-hatian dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga: 3 Weton Tibo Ratu dalam Primbon Jawa, Konon Selalu Beruntung
Terdapat 11 kategori Tibo Weton yang dikenal dalam penafsiran tersebut. Setiap kategori memiliki daftar weton masing-masing.
Berikut 11 kategori Tibo Weton beserta weton yang termasuk di dalamnya:
1. Tibo Tulang Wangi
Tibo Tulang Wangi dalam penafsiran Primbon Jawa dikaitkan dengan karakter yang menyenangkan, mudah disukai, serta memiliki peluang memperoleh keberuntungan dan rezeki.
Namun, kategori ini juga dipercaya memiliki kepekaan tertentu terhadap kondisi lingkungan.
Dalam sejumlah kepercayaan masyarakat Jawa, pemiliknya bahkan dianjurkan lebih berhati-hati ketika memasuki bulan Suro.
Daftar weton: Senin Wage, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Wage, Minggu Kliwon.
2. Tibo Sandang
Tibo Sandang dikaitkan dengan kecukupan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam penafsiran primbon, pemilik weton kategori ini dipercaya memiliki kehidupan yang relatif berkecukupan, terutama dalam urusan kebutuhan materi dan keseharian.
Daftar weton: Senin Pon, Selasa Wage, Rabu Kliwon, Kamis Legi, Jumat Pahing, Sabtu Pon, Minggu Wage.
3. Tibo Gedhong
Tibo Gedhong merupakan salah satu kategori yang banyak dikaitkan dengan urusan kekayaan dan kepemilikan aset.
Pemilik weton yang masuk kategori ini dipercaya memiliki peluang mengumpulkan harta benda, tanah maupun berbagai bentuk aset berharga.
Kemapanan finansial menjadi salah satu gambaran utama Tibo Gedhong.
Daftar weton: Senin Legi, Selasa Pahing, Rabu Pon, Kamis Wage, Jumat Kliwon, Sabtu Legi, Minggu Pahing.
4. Tibo Sari
Tibo Sari lebih banyak dikaitkan dengan kebahagiaan serta hubungan sosial.
Pemilik weton kategori ini dipercaya memiliki kemampuan membangun relasi yang baik.
Lingkungan sosial yang positif dan hubungan harmonis dengan orang lain menjadi gambaran yang melekat pada Tibo Sari.
Daftar weton: Senin Kliwon, Selasa Legi, Rabu Pahing, Kamis Pon, Jumat Wage, Sabtu Kliwon, Minggu Legi.
5. Tibo Cantula
Tibo Cantula dalam penafsiran Primbon Jawa dikaitkan dengan kecerdasan dan kemampuan berpikir.
Pemiliknya dipercaya memiliki kemampuan memahami berbagai hal serta kecakapan dalam berkomunikasi.
Karena itu, kategori ini sering dikaitkan dengan bidang yang membutuhkan kemampuan intelektual dan penguasaan keterampilan tertentu.
Daftar weton: Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Kliwon, Minggu Wage.
6. Tibo Singo
Sesuai namanya, Tibo Singo kerap digambarkan dengan karakter kuat dan berani.
Pemilik weton dalam kategori ini dipercaya mempunyai jiwa kepemimpinan serta kemampuan memengaruhi lingkungan sekitarnya.
Mereka disebut memiliki keberanian dalam mengambil keputusan dan berpotensi mendapatkan kepercayaan untuk memimpin.
Daftar weton: Senin Wage, Selasa Kliwon, Rabu Pahing, Kamis Legi, Jumat Kliwon, Sabtu Pahing, Minggu Wage.
7. Tibo Rezeki
Tibo Rezeki secara khusus dikaitkan dengan kelancaran dalam urusan finansial.
Dalam penafsiran primbon, pemiliknya dipercaya memiliki peluang memperoleh rezeki dan menjaga kestabilan ekonomi.
Kategori ini memiliki kemiripan dengan Tibo Gedhong, tetapi lebih menekankan pada aliran rezeki dibandingkan kepemilikan aset.
Daftar weton: Senin Pahing, Selasa Pon, Rabu Wage, Kamis Kliwon, Jumat Legi, Sabtu Pahing, Minggu Pon.
8. Tibo Ratu
Tibo Ratu dikaitkan dengan kehormatan, kedudukan dan status sosial.
Pemilik weton dalam kategori ini dipercaya mempunyai pembawaan yang membuatnya mudah mendapatkan penghormatan dari lingkungan.
Dalam penafsiran tertentu, mereka juga dianggap memiliki peluang menduduki posisi penting atau menjadi tokoh yang disegani.
Daftar weton: Senin Kliwon, Selasa Legi, Rabu Pahing, Kamis Pon, Jumat Wage, Sabtu Kliwon, Minggu Legi.
9. Tibo Lara
Tibo Lara memiliki nama yang berkaitan dengan kata lara atau sakit. Namun, dalam penafsiran yang digunakan, kategori ini tidak semata-mata dimaknai sebagai pertanda buruk.
Tibo Lara justru dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk menghadapi dan melewati berbagai persoalan. Pemiliknya dipercaya memiliki daya tahan dalam menghadapi kondisi sulit serta kemampuan untuk bangkit setelah mengalami masalah.
Daftar weton: Senin Wage, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Kliwon, Minggu Wage.
10. Tibo Lungguh
Tibo Lungguh merupakan kategori yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan.
Kata lungguh dalam bahasa Jawa berarti duduk atau menempati suatu tempat. Dalam penafsiran Primbon Jawa, kategori ini kemudian dikaitkan dengan peluang memperoleh posisi strategis, tanggung jawab besar maupun kedudukan yang dihormati.
Daftar weton: Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Kliwon, Minggu Wage.
11. Tibo Pati
Tibo Pati menjadi kategori yang kerap dikaitkan dengan perlunya kewaspadaan.
Dalam sejumlah penafsiran, kategori ini dipercaya memiliki hubungan dengan berbagai risiko dan tantangan dalam perjalanan hidup.
Karena itu, pemilik weton yang masuk Tibo Pati dianjurkan untuk lebih berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh.
Istilah Tibo Pati tidak seharusnya dimaknai sebagai kepastian mengenai kematian atau musibah.
Dalam konteks tradisi, penafsiran tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari kepercayaan yang mengingatkan seseorang agar selalu mawas diri.
Daftar weton: Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Kliwon, Minggu Wage.
Pada akhirnya, 11 kategori Tibo Weton tersebut merupakan bagian dari tradisi dan penafsiran Primbon Jawa. Weton tidak dapat dijadikan patokan pasti untuk menentukan masa depan seseorang.
Karakter, rezeki, karier, maupun keberhasilan seseorang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usaha, keputusan, lingkungan, kesempatan dan kondisi kehidupan masing-masing. (*)
Editor : Abdul Rochim