RADARPATI.JAWAPOS.COM - Konsep weton atau hari kelahiran dalam kepercayaan masyarakat Jawa kerap dijadikan pijakan untuk memetakan karakter hingga garis perjalanan hidup seseorang.
Dari berbagai kategori watak dasar, weton tibo pati dikenal memiliki narasi perjalanan hidup yang cukup menantang karena sarat dengan ujian dan dinamika.
Baca Juga: 8 Weton Tibo Lungguh Dalam Primbon Jawa, Rezeki Datang Sendiri
Praktisi retrokognisi, Om Hao, menegaskan bahwa istilah "pati" dalam tibo pati bukanlah petunjuk kematian fisik, melainkan simbol fase kejatuhan atau ujian berat dalam dimensi kehidupan.
Istilah tersebut merujuk pada kondisi "mati" dalam hal usaha, aspek finansial, percintaan, maupun kehidupan sosial.
Baca Juga: 8 Weton Tibo Lungguh dalam Primbon Jawa, Konon Dikaitkan dengan Kedudukan dan Kemuliaan
Om Hao mencontohkan kondisi ini seperti pebisnis yang usahanya runtuh akibat dampak situasi darurat. Meski sempat berada di titik nol, fase keterpurukan tersebut sejatinya menjadi kawah candradimuka untuk belajar, bangkit, dan meraih pencapaian yang jauh lebih besar.
Berdasarkan perhitungan Primbon Jawa—yang didapat dari penjumlahan nilai hari dan pasaran lalu dibagi angka lima—terdapat enam weton yang masuk dalam kategori tibo pati (sisa pembagian 5), yakni:
Kamis Pon
Rabu Kliwon
Minggu Legi
Selasa Pon
Jumat Pahing
Jumat Wage
Dalam tradisi Jawa, energi kurang menguntungkan dari tibo pati dapat disiasati atau diruwat untuk menyeimbangkan energinya. Om Hao menyarankan prosesi ruwatan atau pembersihan energi negatif pada hari-hari tertentu yang memiliki nilai neptu penyeimbang—misalnya memilih hari yang jatuh pada hitungan Rejeki.
Daya juang weton tibo pati tercermin dari sederet tokoh nasional dan publik figur tanah air yang berhasil melewati masa-masa sulit sebelum akhirnya meraih puncak popularitas serta kesuksesan, seperti:
Ir. Soekarno (Kamis Pon)
Soeharto (Rabu Kliwon)
Raden Mas Sahid / Ranggawarsita (Minggu Legi)
Prilly Latuconsina (Selasa Pon)
Ariel Tatum (Jumat Pahing)
Luna Maya (Jumat Wage)
Pengalaman para tokoh tersebut membuktikan bahwa weton tibo pati bukanlah vonis takdir yang suram. Bagi mereka yang mampu bertahan melewati ujian dengan kesabaran, ikhtiar, dan ketekunan, fase "kejatuhan" tersebut justru menjadi batu loncatan menuju pencapaian hidup yang lebih tinggi. (*)
Editor : Zakarias Fariury