Hulu Sungai Tempur Mengering, Warga Jepara Pasang Pipa dari Mata Air

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:59 WIB
KERING: Kondisi hulu sungai di Desa Tempur, Jepara, yang telah mengering. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
KERING: Kondisi hulu sungai di Desa Tempur, Jepara, yang telah mengering. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

JEPARA – Hulu Sungai Tempur di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mengering saat musim kemarau.

Aliran yang selama ini menjadi sumber air bagi warga menyusut drastis hingga menyisakan genangan kecil, pasir, dan bebatuan di dasar sungai.

Menghadapi kondisi tersebut, warga memasang instalasi pipa untuk menyalurkan air langsung dari sumber mata air.

Upaya itu dilakukan pada Jumat (9/10) sebagai langkah memenuhi kebutuhan air bersih di tengah semakin terbatasnya pasokan alami.

Baca Juga: Ujian Berat Lini Pertahanan Persijap Jepara di Markas Dewa United, Misi Bangkit dari Dasar Klasemen

Berdasarkan pantauan di lokasi, aliran sungai yang biasanya melewati kawasan permukiman kini nyaris tidak terlihat.

Kondisi tersebut menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga Desa Tempur, terutama generasi tua yang mengenang sungai tetap mengalir meski memasuki puncak kemarau.

Carik Desa Tempur, Mahfud Aly, mengatakan dahulu sungai menjadi tempat anak-anak bermain air.

Debitnya juga relatif stabil sehingga warga dapat memanfaatkan aliran sungai untuk berbagai keperluan, termasuk merendam kayu gelondongan selama berbulan-bulan.

Kini, warga harus menghadapi kondisi berbeda. Kekeringan membuat ketersediaan air semakin bergantung pada sumber mata air dan infrastruktur penampungan.

Perubahan Tutupan Lahan Jadi Perhatian

Mahfud menuturkan, perubahan kondisi lingkungan di sekitar Desa Tempur telah berlangsung selama puluhan tahun.

Menurut penuturannya, perambahan hutan setelah reformasi 1998, disusul kebakaran hutan dalam skala besar, menjadi bagian dari rangkaian perubahan kawasan tersebut.

Pada periode 2000–2005, longsoran kecil disebut mulai sering terjadi.

Kondisi itu berlanjut hingga banjir bandang pada 2006 yang membawa material tanah dari hulu dan merusak permukiman warga.

Sejak sekitar 2008, tanaman kopi semakin banyak dibudidayakan di kawasan desa.

Perluasan lahan kopi menjadi salah satu perubahan tutupan lahan yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga ketersediaan air.

Mahfud menjelaskan, peningkatan harga kopi ikut mendorong warga memperluas penanaman.

Sebelum 2022, harga kopi disebut berkisar Rp 19.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Pada 2023–2024, harganya diklaim sempat mencapai Rp 80.000 per kilogram.

Kondisi tersebut memberikan insentif ekonomi bagi petani untuk memaksimalkan lahan.

Namun, perubahan tutupan vegetasi dan berkurangnya pohon hutan perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan tanah menyerap serta menyimpan air.

Kekeringan yang terjadi saat ini juga tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu faktor saja.

Curah hujan, kondisi tanah, karakteristik daerah tangkapan air, perubahan penggunaan lahan, dan fenomena iklim dapat saling memengaruhi ketersediaan air di kawasan hulu.

Bak Penampung Jadi Andalan Warga

Di tengah menyusutnya aliran sungai, warga mengandalkan infrastruktur penampungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mahfud menyebut setiap dukuh di Desa Tempur memiliki satu bak penampung besar berukuran sekitar 3 x 3 meter.

Fasilitas tersebut digunakan untuk menampung pasokan air sebelum disalurkan ke rumah-rumah warga.

Keberadaan bak penampung menjadi penopang kebutuhan air bersih ketika sumber alami mengalami penurunan debit.

Meski demikian, kecukupan pasokan tetap bergantung pada ketersediaan air yang masuk ke fasilitas tersebut.

Kekeringan ini menambah daftar persoalan kebencanaan yang pernah dialami Desa Tempur.

Selain banjir bandang pada 2006 dan banjir pada 2014, desa tersebut juga terdampak bencana hidrometeorologi pada awal 2026 yang menyebabkan akses wilayah terisolasi akibat longsor.

Pemulihan Hulu Muria Perlu Menjadi Perhatian

Mengeringnya hulu Sungai Tempur menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan di lereng Gunung Muria.

Upaya pemulihan perlu memperhatikan kondisi daerah tangkapan air, perlindungan kawasan hutan, serta pola budidaya pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Di sisi lain, kekeringan juga terjadi ketika warga menghadapi persoalan lingkungan lainnya.

Beberapa hari sebelumnya, dua kambing milik warga dilaporkan diduga dimangsa Macan Tutul Muria, sedangkan tiga kambing lainnya dilaporkan hilang dan belum ditemukan.

Berbagai persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan lingkungan secara menyeluruh, mulai dari perlindungan habitat satwa hingga pemeliharaan sumber air.

Bagi warga Desa Tempur, keberlanjutan sumber mata air menjadi kebutuhan mendasar agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan saat kemarau. (*)

Editor : Abdul Rochim
hulu Sungai Tempur mengering kekeringan Jepara Desa Tempur Kecamatan Keling mata air Gunung Muria lingkungan lereng Muria