Mencicipi MBG Prasmanan, Wabup Jepara Gus Hajar: Menu Masih Hangat

Abdul Rochim • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 19:36 WIB
Wakil Bupati Jepara Gus Hajar bersama para siswa SD Kanisius menikmati menu MBG prasmanan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
Wakil Bupati Jepara Gus Hajar bersama para siswa SD Kanisius menikmati menu MBG prasmanan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

JEPARA — Pilot project pendistribusian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di Jepara, memasuki hari ke-4.

Jepara menjadi salah satu dari 60 titik se-Indonesia yang dipilih untuk menerapkan uji coba ini. 

Biasanya pemorsian dilakukan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kali ini di sekolahan.

Siswa bisa request takaran menu. Para siswa utamanya kelas IV dan V di SD Swasta Kanisius Jepara, sumringah.

Beberapa siswa utamanya kelas besar, dilibatkan untuk membantu menyajikan menu kepada teman-temannya, pada Kamis (8/10).

Baca Juga: SPPG Kauman 02 di Jepara Keteteran Siapkan Menu MBG Prasmanan

Bahkan, sejumlah siswa juga tampak meminta tambah porsi.

Nasi hangat, dan menu segar disantap dengan lahap.

Pada Kamis (8/10) menu yang disajikan meliputi nasi putih, pangsit ayam, tahu goreng, tumis sayur wortel buncis dan buah jeruk.

Menu dilakukan penggantian setiap hari. Seperti menu pada Rabu (7/10) nasi putih, telur rawis, orek tempe, lalapan timun dan sambal, buah apel.

Lalu pada Selasa (6/10), menu yang disajikan, nasi putih, chicken crispy, kacang kedelai rebus, tumis sayur wortel kol, buah kelengkeng.

Pada Senin (5/10) lalu, nasi putih, otak-otak asam manis, tahu fantasi, tumis sayur buncis wortel, buah anggur.

Kini suasana makan siang siswa SD Swasta Kanisius Jepara tampak berbeda, dengan adanya skema pembagian porsi MBG secara prasmanan tersebut.

Jika biasanya waktu istirahat hanya sekitar 15–20 menit, saat sistem prasmanan diterapkan siswa membutuhkan waktu sekitar 30–40 menit.

Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan, penerapan MBG prasmanan tersebut masih dalam tahap uji coba.

Satgas Kabupaten Jepara turut meninjau pelaksanaan sistem tersebut, untuk melihat respons siswa sekaligus mencatat berbagai hal yang perlu dievaluasi.

“Ada beberapa catatan dan temuan, tapi memang anak-anak lebih suka ketika disajikan MBG-nya secara prasmanan,” ucapnya.

Bahkan, Gus Hajar juga ikut makan menu MBG pada Kamis (8/10). “Ya enak. Nasinya hangat, lauknya pangsit ayam, tahu goreng, tumis sayur wortel buncis,” katanya di sela-sela makan MBG bersama para siswa.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik adalah perubahan selera makan siswa.  Ketika makanan disajikan secara prasmanan, siswa terlihat lebih antusias mengambil menu yang tersedia.

Bahan makanan yang tersaji juga dinilai lebih fresh, sehingga mampu meningkatkan ketertarikan siswa untuk makan.

Memang, penerapan sistem tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap waktu istirahat.

Durasi makan yang bertambah berpotensi membuat waktu pelajaran maupun kepulangan siswa ikut bergeser.

Karena itu, Pemkab Jepara akan menyampaikan catatan tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Misalnya jam kepulangan pukul 12.45 jadi jam 13.00, itu ditujukan untuk mengganti jam istirahat yang molor,” ujarnya.

Gus Hajar juga menyampaikan, pelaksanaan prasmanan diharapkan tidak mengganggu jam pembelajaran maupun menambah beban guru.

Termasuk ketika siswa dilibatkan dalam proses penyajian makanan.

Menurutnya, persoalan tersebut masih bisa disiasati. Tanpa mengganggu jam pembelajaran.

“Ketika anak-anak sudah membantu pemorsian, jadi anak-anak tidak usah membantu piket bersih-bersih kelas misalnya,” singgungnya.

Untuk sementara, kali ini uji coba MBG prasmanan di Jepara memang baru diterapkan di SD Swasta Kanisius.

Ke depan, Pemkab Jepara berharap setiap kecamatan dapat melakukan trial serupa untuk melihat respons siswa dengan kondisi sekolah yang berbeda.

Korwil SPPG Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Musthofa mengatakan, konsep prasmanan tersebut merupakan inisiasi Kepala BGN setelah melakukan kunjungan ke Jepang.

Secara nasional, sistem tersebut masih dalam tahap uji coba dan baru diterapkan di sekitar 60 titik.

“Diharapkan jika ada proses edukasi kandungan gizi dalam proses pendistribusian, anak-anak tambah senang melihat dan mengambil MBG karena fresh, bahkan bisa tambah,” jelasnya. (fik/him)

 

 

 

Editor : Abdul Rochim
MBG prasmanan Wabup Jepara Gus Hajar jepara