KKP Dorong Karimunjawa Jadi Sentra Rumput Laut, Budidaya Diubah Lebih Ramah Lingkungan

Abdul Rochim • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:00 WIB
Hamparan kawasan modeling budidaya rumput laut dengan menggunakan sarana dan prasarana ramah lingkungan (menggunakan HDPE) guna menghindari penggunaan botol plastik yang berpotensi mencemari kesehatan biota laut akibat mikroplastik.
Hamparan kawasan modeling budidaya rumput laut dengan menggunakan sarana dan prasarana ramah lingkungan (menggunakan HDPE) guna menghindari penggunaan botol plastik yang berpotensi mencemari kesehatan biota laut akibat mikroplastik.

JEPARA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, kembali menjadi salah satu sentra produksi rumput laut di Jawa Tengah.

Pengembangan dilakukan melalui modeling budidaya yang mengutamakan aspek lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya KKP menyebut pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali potensi rumput laut Karimunjawa yang sempat mengalami penurunan produksi sejak 2009.

Direktur Rumput Laut Ditjen Perikanan Budi Daya KKP Nono Hartanto mengatakan, modeling budidaya rumput laut di Karimunjawa tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi.

Baca Juga: Pemprov Jateng Rencanakan Trans Jepara-Kudus-Pati, Angkot Kudus Jadi Penghubung

Program tersebut juga dirancang dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

"Kami ingin bangkitkan kembali kejayaan rumput laut Karimunjawa sebagai sumber utama perekonomian masyarakat pesisir Jepara dan penopang produksi rumput laut nasional," ujar Nono dalam keterangannya, Senin (25/9/2026).

Dari sisi lingkungan, KKP mulai mengubah penggunaan sejumlah sarana budidaya yang dinilai kurang ramah lingkungan.

Penggunaan tali rafia dan pelampung berbahan botol plastik secara bertahap digantikan dengan material HDPE.

Menurut KKP, penggunaan botol plastik pada kegiatan budidaya berpotensi menimbulkan pencemaran perairan dan meningkatkan risiko mikroplastik terhadap ekosistem serta biota laut.

Sementara dari sisi sosial dan ekonomi, modeling tersebut diharapkan membuka lebih banyak kesempatan usaha bagi masyarakat pesisir.

Pemberdayaan perempuan pesisir juga menjadi salah satu bagian dari pengembangan kawasan budidaya.

Budidaya Rumput Laut Karimunjawa Terus Dipantau

Pelaksanaan modeling budidaya tidak dilepas begitu saja. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara bersama Dinas Perikanan Kabupaten Jepara melakukan pendampingan dan pengawasan di lapangan.

Tim teknis BBPBAP Jepara, penyuluh perikanan, serta jajaran Kecamatan Karimunjawa juga memantau perkembangan budidaya sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang muncul.

Anggota Pokdakan Karya Jaya Bersama, Ilyas, mengatakan kondisi rumput laut yang telah berusia sekitar 25 hingga 30 hari masih tergolong baik.

Sebagian bahkan sudah dapat dikembangkan atau dipecah untuk menjadi calon bibit baru.

Dia juga menyebut penggunaan frame pada modeling budidaya tidak mengganggu ekosistem terumbu karang di lokasi yang digunakan.

Area tersebut memiliki kedalaman minimal sekitar satu meter ketika air laut berada pada kondisi surut terendah.

Namun, perubahan kondisi cuaca turut menjadi tantangan. Dampak El Nino menyebabkan suhu perairan meningkat di sejumlah titik.

Hasil pengecekan tim teknis menunjukkan suhu permukaan air di beberapa lokasi telah mendekati ambang batas standar kualitas air untuk kegiatan budidaya.

Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu pemicu munculnya lumut pada sebagian rumput laut.

Persoalan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah budidaya lain di Indonesia.

Untuk mengantisipasi kerusakan bibit, KKP telah menyalurkan tambahan bibit rumput laut dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

Total bibit rumput laut hasil kultur jaringan yang telah dikirim mencapai 5.400 kilogram.

Bibit tersebut didistribusikan kepada enam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) dan saat ini dilaporkan dalam kondisi baik.

Pembudidaya Disebut Tetap Mendapat Dukungan Bibit

Camat Karimunjawa Nuril Abdillah mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan sekitar 10 pembudidaya untuk mengetahui perkembangan program.

Menurut dia, pembudidaya memang menemukan sebagian bibit yang rusak akibat lumut.

Namun, kondisi tersebut dinilai masih tertutupi dengan jumlah bantuan bibit yang diterima.

"Memang betul diakui ada bibit rumput laut yang rusak akibat lumut. Tapi perbandingan antara yang rusak dengan banyaknya bantuan yang diterima masih lebih besar bantuannya," jelas Nuril.

Dia mencontohkan, terdapat pembudidaya yang melaporkan kerusakan sekitar satu kuintal bibit, tetapi mendapatkan bantuan tambahan sekitar empat hingga lima kuintal.

Pengembangan modeling rumput laut tersebut saat ini mencakup kawasan seluas 50 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar lima hektare dialokasikan sebagai kebun bibit, sedangkan 45 hektare digunakan sebagai kawasan pembesaran.

KKP juga memastikan penataan ruang laut dilakukan agar aktivitas budidaya tetap dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan lain, termasuk alur pelayaran.

Melalui modeling tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya ekosistem usaha rumput laut yang terintegrasi.

Selain meningkatkan produksi, program ini diharapkan mampu memperluas peluang ekonomi masyarakat pesisir dan menggerakkan perekonomian lokal Karimunjawa serta Jepara. (*)

Editor : Abdul Rochim
budidaya rumput laut Jepara rumput laut Karimunjawa ekonomi pesisir modeling rumput laut kkp