Imbas Dugaan Keracunan, Siswa SMPN 2 Jepara Trauma Terima MBG

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:51 WIB
Menu MBG di SMPN 2 Jepara yang sebabkan keracunan. (MBG)
Menu MBG di SMPN 2 Jepara yang sebabkan keracunan. (MBG)

JEPARA — Insiden dugaan keracunan yang dialami 123 siswa dan guru SMP Negeri 2 Jepara membuat sebagian siswa merasa khawatir saat kembali menerima menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Meski kondisi para siswa dan guru berangsur pulih, pihak sekolah menilai kepercayaan terhadap program MBG perlu kembali dibangun.

Sekolah pun meminta penyedia memastikan seluruh proses pengolahan dan distribusi makanan memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Kepala SMPN 2 Jepara Agung Sriharto mengatakan, pihak sekolah memberikan sejumlah masukan terkait pelaksanaan MBG.

Baca Juga: Diduga Usai Santap MBG, 123 Siswa dan Guru SMPN 2 Jepara Alami Gangguan Pencernaan

Terutama menyangkut waktu pembagian, proses pengolahan makanan, hingga upaya memberikan rasa aman kepada siswa.

Menurutnya, sejak awal SMPN 2 Jepara memang memiliki pola pembagian MBG pada waktu yang relatif lebih siang.

Hal tersebut menyesuaikan dengan jam kepulangan siswa yang mencapai pukul 13.30.

"Waktu kepulangan siswa pukul 13.30, lebih lama dibanding sekolah lain," ungkap Agung, Sabtu (8/8).

Selain mengikuti kegiatan belajar mengajar, sebagian siswa juga menjalani kegiatan kokurikuler hingga sore.

Keberadaan MBG dinilai membantu siswa karena mereka dapat makan di sekolah sebelum melanjutkan kegiatan tanpa harus pulang terlebih dahulu.

"Ada anak yang terbiasa kokurikuler hingga sore. Dengan adanya MBG tidak usah pulang, makan dulu," ujarnya.

Karena alasan tersebut, sekolah sejak awal telah menyampaikan pola pembagian makanan kepada penyedia MBG. Menu biasanya dibagikan sekitar pukul 11.00.

"Kami ambil jam agak siang. Kami menyampaikan SOP yang biasa kami lakukan. Pembagiannya sekitar jam 11," jelasnya.

Sebelumnya, layanan MBG untuk SMPN 2 Jepara dilakukan oleh SPPG yang berada di Pengkol.

Namun, karena terjadi kondisi overload, layanan kemudian dialihkan ke SPPG Bandengan 5 milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa.

Pihak sekolah juga meminta agar proses memasak untuk kebutuhan SMPN 2 Jepara dilakukan pada shift kedua.

Pengaturan tersebut disesuaikan dengan waktu pembagian makanan sehingga kualitas menu tetap terjaga.

"SMPN 2 Jepara dimasak di shift kedua untuk menghindari basi dan lain-lain," katanya.

Agung menegaskan, pihak sekolah tidak mengetahui secara langsung proses pengadaan bahan baku, pencucian, maupun pengolahan makanan. Tahapan tersebut menjadi tanggung jawab penyedia MBG.

"Bahan baku, cara masak, cuci, kami tidak tahu," ujarnya.

Karena itu, apabila layanan MBG nantinya tetap dilakukan SPPG Bandengan 5 maupun dialihkan ke SPPG lainnya, sekolah berharap standar operasional yang telah disampaikan tetap diterapkan.

"Kalau tetap Bandengan 5 atau SPPG ganti, menyesuaikan SOP cara masak," tegas Agung.

Selain perbaikan teknis, pihak sekolah menilai perlu dilakukan penguatan dan sosialisasi kepada siswa.

Langkah tersebut penting karena kejadian dugaan keracunan sebelumnya membuat sebagian siswa merasa takut untuk kembali mengonsumsi makanan MBG.

"Memberikan sosialisasi penguatan kepada anak-anak. Kejadian (keracunan, red) kemarin jadi takut mengonsumsi MBG, sehingga dampaknya banyak," jelasnya.

Agung berharap pelaksanaan MBG di sekolah dapat terus berjalan dengan memperhatikan standar keamanan dan kualitas makanan.

Menurutnya, kepercayaan siswa harus menjadi salah satu perhatian utama setelah insiden tersebut.

"Yang jelas SPPG harus sesuai SOP dalam menu berkualitas. Tim kami juga akan waspada," pungkasnya. (fik)



Editor : Abdul Rochim
MBG Jepara SMPN 2 Jepara keracunan MBG Jepara SPPG Bandengan 5 Makan Bergizi Gratis