JEPARA – Ratusan umat Hindu di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, memperingati Hari Raya Galungan dengan menggelar persembahyangan bersama di sejumlah pura, Rabu (17/6).
Perayaan yang berlangsung setiap 210 hari dalam kalender Hindu tersebut menjadi momentum memperkuat spiritualitas sekaligus mensyukuri kemenangan kebaikan atas keburukan.
Persembahyangan dilaksanakan di beberapa tempat ibadah, antara lain Pura Dharma Loka, Pura Giri Tungka, Pura Puser Bumi, dan Pura Manggala Dharma.
Baca Juga: Kirab 1 Muharram di Sendang Bidadari Jepara Daren Hadirkan Tari Kolosal Jaka Tarub
Sejak pagi, umat Hindu berdatangan membawa berbagai banten atau sesaji yang digunakan dalam rangkaian ibadah.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Ngarbianto, menjelaskan bahwa Hari Raya Galungan memiliki makna kemenangan Dharma atau kebenaran atas Adharma yang melambangkan keburukan dan hawa nafsu duniawi.
Menurutnya, peringatan Galungan menjadi kesempatan bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan.
Setelah Galungan, umat Hindu juga akan memperingati Hari Raya Kuningan yang jatuh pada 27 Juni 2026.
Ia menilai tantangan terbesar dalam kehidupan sering kali berasal dari diri sendiri.
Karena itu, nilai utama Galungan adalah mengendalikan ego, kesombongan, dan berbagai sifat negatif yang dapat menjauhkan manusia dari jalan kebenaran.
Rangkaian ibadah diawali dengan ritual mecaru yang dipimpin pemangku Sampur dan Heri Santiko.
Upacara tersebut merupakan simbol penyucian dan penghormatan kepada Bhuta Kala yang dalam ajaran Hindu menggambarkan berbagai gangguan atau energi negatif.
Setelah ritual mecaru, umat melaksanakan persembahyangan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Usai ibadah, para jemaat mengikuti tradisi lungsuran, yakni makan bersama menggunakan sesaji yang sebelumnya telah dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan serta ungkapan syukur atas berkah yang diterima.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Jepara, Rudi Doso Cahyono, menambahkan bahwa makna Galungan tidak hanya berkaitan dengan kemenangan besar, tetapi juga kemenangan kecil yang dihadapi setiap hari dalam kehidupan.
Menurutnya, kemampuan meluangkan waktu untuk datang ke pura dan beribadah juga merupakan bentuk kemenangan Dharma atas kesibukan serta godaan kehidupan sehari-hari.
Dalam prosesi tersebut, umat juga menerima tirta amerta atau air suci yang telah didoakan oleh pemangku.
Setelah seluruh rangkaian persembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan dharma wacana sebagai sarana memperdalam pemahaman keagamaan dan spiritualitas umat.
Rudi menegaskan bahwa persembahyangan Galungan dapat dilakukan pada pagi, siang, maupun malam hari sesuai kondisi masing-masing umat, dengan harapan ibadah dapat dijalankan secara tulus dan khusyuk. (fik)