JEPARA — Tekanan ekonomi global, melemahnya nilai tukar rupiah, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dinilai belum sepenuhnya melemahkan daya tahan masyarakat Indonesia.
Namun pemerintah diminta lebih cermat dalam menyusun kebijakan agar benar-benar berdampak terhadap daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat bawah.
Hal itu disampaikan Kaprodi Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Unisnu Jepara, Ahmad Fauzan Mubarok.
Menurutnya, pengalaman selama pandemi Covid-19 membuktikan masyarakat Indonesia memiliki resiliensi sosial dan ekonomi yang cukup kuat meski berada dalam kondisi sulit.
“Waktu lockdown masyarakat masih bisa bertahan. Sekarang aktivitas ekonomi juga masih berjalan,” ujarnya.
Meski demikian, Fauzan menilai tekanan terbesar saat ini berada di sektor energi.
Kenaikan harga energi disebut dapat memicu efek berantai terhadap harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat.
Ia memperkirakan harga bahan bakar minyak global belum akan turun signifikan dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memperbesar beban warga karena Indonesia masih bergantung pada barang impor seperti kedelai, gandum, hingga produk turunannya.
Menurutnya, masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar secara langsung, namun kebutuhan sehari-hari banyak dipengaruhi produk impor.
Ketika nilai tukar rupiah melemah dan distribusi mahal, harga pangan otomatis ikut terdampak.
Fauzan juga menyoroti tingginya konsumsi makanan berbasis tepung dan mie instan di masyarakat yang membuat ketergantungan terhadap bahan impor semakin besar.
Ia menilai subsidi energi seperti pertalite masih cukup membantu masyarakat saat ini.
Namun apabila harga energi kembali naik, maka tekanan ekonomi akan semakin berat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemandirian energi dan pangan sebagai pondasi utama memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“Kalau kita tidak mandiri di sektor energi dan pangan, maka sektor lain akan ikut terdampak,” katanya.
Selain persoalan ekonomi makro, Fauzan menilai aktivitas sosial masyarakat masih menjadi penopang ekonomi kecil di tingkat bawah.
Tradisi gotong royong, sedekah Jumat, hingga kegiatan keagamaan dinilai mampu menjaga perputaran ekonomi masyarakat desa.
Ia mencontohkan tradisi tahlilan yang masih hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama dapat menciptakan aktivitas ekonomi melalui konsumsi makanan dan jasa warga sekitar.
Menurutnya, masyarakat desa saat ini relatif lebih tahan menghadapi krisis dibanding masyarakat perkotaan yang lebih bergantung pada sektor formal dan pola konsumsi tinggi.
Fauzan juga mengingatkan pentingnya diversifikasi pekerjaan dan peningkatan kemampuan digital di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia menilai generasi muda perlu memiliki keterampilan tambahan dan daya tahan psikologis untuk menghadapi perubahan dunia kerja.
Di sisi lain, ia turut mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan ekonomi masyarakat.
Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, program tersebut seharusnya lebih banyak melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal agar ekonomi desa ikut bergerak.
Jika pasokan hanya berasal dari supplier besar, dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dinilai belum maksimal.
Fauzan juga menyoroti pentingnya pembangunan koperasi dan kebijakan ekonomi yang tumbuh secara organik dari masyarakat agar lebih tepat sasaran.
Ia mengingatkan kondisi ekonomi nasional saat ini perlu diwaspadai, mulai dari pelemahan rupiah, tingginya impor, tekanan ekspor, hingga penurunan indeks pasar modal.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari angka statistik semata apabila daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
Fauzan menegaskan penguatan ketahanan energi, pengembangan ekonomi desa, peningkatan keterampilan digital, dan ekonomi berbasis masyarakat menjadi langkah penting menghadapi tantangan ekonomi global ke depan. (fik)