Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Para Bhikkhu Jepara Walk For Peace: Singgah di Masjid, Disuguhi Makanan dan Jagong dengan Takmir 

Andika Trisna Saputra • Jumat, 22 Mei 2026 | 19:43 WIB

TOLERANSI KENTAL: Pengurus Masjid Baitush Shomad, Desa Welahan, Welahan, Jepara, memberi air mineral kepada bhikkhu thudong saat istirahat sejenak di masjid itu tadi siang. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PAT)
TOLERANSI KENTAL: Pengurus Masjid Baitush Shomad, Desa Welahan, Welahan, Jepara, memberi air mineral kepada bhikkhu thudong saat istirahat sejenak di masjid itu tadi siang. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PAT)

JEPARA - Perjalanan spiritual bhikkhu thudong di Kabupaten Jepara menghadirkan pemandangan penuh toleransi dan kerukunan antarumat beragama, Jumat (22/5) siang.

Dalam perjalanan hari ketiga, rombongan bhikkhu singgah di Masjid Baitush Shomad, Desa Welahan, Welahan. Mereka disambut hangat oleh pengurus masjid dan warga muslim setempat.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, para bhikkhu memasuki area masjid sebagai tempat persinggahan untuk beristirahat sejenak. Mereka dipersilakan duduk bersama, berbincang dengan pengurus masjid, hingga saling bersalaman sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Baca Juga: Bhikkhu Laku Jalan Kaki dari Jepara ke Klaten Mengandung Makna Sangat Mulia

Momen itu, menjadi simbol kuat perdamaian dan persaudaraan lintas agama di tengah masyarakat.

Ketua Panitia Bhikkhu Thudong Jepara Soendoko mengatakan, perjalanan hari ketiga dimulai dari Pendapa Kabupaten Jepara sejak pukul 04.00.

Rombongan tiba di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan sekitar pukul 17.30, setelah menempuh perjalanan sejauh 25 kilometer.

“Perjalanan hari ini singgah lima kali. Termasuk di Masjid Baitush Shomad. Kami memiilih titik singgah berdasarkan jarak tempuh, supaya tidak terlalu malam di jalan. Kalau malam lebih berisiko. Jadi, kami usahakan malam untuk istirahat,” ujarnya.

Perjalanan Thudong sebelumnya, dimulai dari Candi Sima menuju Bangsri sejauh sekitar 15 kilometer pada hari pertama.

Kemudian hari kedua, dilanjutkan dari Bangsri menuju Kota Jepara sejauh 27 kilometer.

Perjalanan sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Cuaca selama perjalanan juga cukup mendukung, meski sempat diguyur hujan singkat pada hari sebelumnya.

“Kalau hujan kami biasanya singgah dulu. Alhamdulillah masyarakat sepanjang perjalanan sangat mendukung. Banyak yang menyambut, berinteraksi, bahkan memberi makanan meskipun berbeda agama,” katanya.

Di jalan, kemarin para bhikku memang banyak berinteraksi dengan warga di jalan.

Banyak juga warga yang mengabadikan momen ini, dengan kamera smartphone. Bhikku pun membalas dengan lambaian tangan, jempolan, dan senyuman.

Di antara bhikku yang thudong itu, juga tak ketinggalan mengeluarkan smartphone-nya untuk juga mengabadikan momen sambutan warga itu.

Soendoko menegaskan, kegiatan thudong bukan sekadar perjalanan spiritual umat Buddha menjelang Hari Raya Waisak, melainkan juga membawa pesan kemanusiaan dan toleransi antarumat beragama.

“Intinya kami ingin menjaga toleransi dan sisi kemanusiaan. Keberagaman harus dijaga supaya kerukunan tetap terwujud,” imbuhnya.

Rombongan bhikkhu thudong di Jepara ini, ada 16 orang dengan rentang usia sekitar 20 hingga 60 tahun.

Para peserta brasal dari berbagai daerah seperti Jepara, Pati, Salatiga, Boyolali, Ngawi, Medan, dan kota lain.

Nantinya satu bhikkhu lagi akan bergabung di Semarang, sehingga total peserta menjadi 17 bhikkhu.

Ketua Takmir Masjid Baitush Shomad Welahan Sumarno menyampaikan, pihaknya menyambut baik kedatangan para bhikkhu, sebagai bentuk nyata persaudaraan antarumat beragama di Indonesia.

“Selamat beristirahat di rumah ibadah umat Islam. Ini wujud toleransi antarumat beragama di Indonesia. Mudah-mudahan silaturahmi ini, menjadikan negara kita semakin damai,” ucapnya saat memberikan sambutan kepada rombongan bhikkhu.

Ia mengapresiasi perjalanan spiritual para bhikkhu yang membawa pesan perdamaian dalam rangkaian kegiatan menyambut Hari Waisak.

Di antara apresiasi itu, ditunjukkan dengan suguhan air mineral botol, jajan seperti roti, dan buah seperti jeruk.

Para bhikku pun menikmati sajian itu. Air mineral itu, ada yang dibawa untuk saku perjalanan.

“Kami bangga saudara-saudara muslim di sini (Masjid Baitush Shomad, Red) bisa menerima kunjungan para bhikku dengan baik. Toleransi beragama di sini sangat tinggi. Para bhikkhu memang ingin menebarkan perdamaian untuk menigkatkan kerukunan antarumat beragama,” katanya.

Sumarno berharap, hubungan persaudaraan lintas agama terus terjaga dan tidak terputus hanya, karena perbedaan keyakinan. “Yang penting tetap seduluran,” tandasnya. (dik/lin)

Editor : Abdul Rochim
#bhikkhu Jepara #walk for peace 2026 #jepara ke candi sewu klaten #laku spiritual #toleransi