JEPARA – Rombongan bhikkhu memulai perjalanan spiritual Thudong dan Walk for Peace 2026 dari kawasan Candi Sima, Kecamatan Donorojo, Jepara, Rabu (20/5).
Dengan berjalan kaki sejauh sekitar 220 kilometer, mereka membawa pesan perdamaian menuju Candi Sewu, Klaten.
Perjalanan yang diperkirakan berlangsung selama 10 hari itu diikuti 16 bhikkhu dari berbagai daerah di Indonesia serta satu bhikkhu asal Semarang.
Baca Juga: Buruh di Jepara Pastikan Kenaikan Dollar Belum Picu PHK, Ini Ancang-Ancang Para Buruh
Mereka berasal dari Medan, Mojokerto, Banyumas hingga Papua, termasuk beberapa putra asli Jepara.
Pelepasan rombongan berlangsung khidmat dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Warga dan umat Buddha tampak memenuhi sejumlah titik di sepanjang jalur Jepara–Kelet untuk memberikan dukungan kepada para bhikkhu.
Ketua Panitia, Soendoko (58), mengatakan Jepara dipilih sebagai titik awal karena adanya keinginan umat Buddha dan masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali tradisi Thudong di daerah tersebut.
“Perjalanan ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga membawa pesan kedamaian dan toleransi,” ujarnya.
Baca Juga: DOLAR NAIK! Eksportir dan Jasa Pengiriman Kontainer di Jepara Berbunga-bunga
Selama perjalanan menuju Candi Sewu, rombongan didukung kendaraan logistik, tenaga medis, serta tenda darurat untuk tempat beristirahat apabila tidak menemukan lokasi singgah.
Umat Buddha di sepanjang rute perjalanan juga turut berdana dengan menyediakan makanan, obat-obatan, sandal, hingga perlengkapan lainnya untuk membantu kebutuhan para bhikkhu.
Salah satu peserta Thudong, Nyanakaruno Mahathera (62), menyebut perjalanan tersebut membawa misi perdamaian, kepedulian, dan toleransi antarumat beragama.
Ia mengaku bersyukur karena kegiatan itu mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk umat Muslim, Kristen, Hindu, dan Katolik.
“Kebersamaan ini harus terus dibangun dengan spirit budaya dan toleransi,” katanya.
Dukungan lintas agama juga datang dari relawan pengawal Thudong asal Cirebon.
Mereka terdiri dari berbagai latar belakang agama yang bersama-sama mengawal perjalanan hingga tujuan akhir di Candi Sewu.
Puncak perjalanan dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei mendatang dalam rangkaian perayaan Waisak di Candi Sewu, Klaten, bersama puluhan bhikkhu lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai kegiatan tersebut menjadi simbol keharmonisan dan keberagaman masyarakat Jepara.
“Inilah wajah Jepara, rumah besar yang damai dan menjunjung tinggi toleransi,” tandasnya.