JEPARA — Atraksi wisata tradisi sepakbola api dan perang obor, mewarnai rangkaian sedekah bumi Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji. Kegiatan digelar pada Selasa (21/4) malam.
Malam pecah. Menjadi merah menyala dan berkobar saat obor disulut. Suasana hening, saat dilakukan penyerahan trisula, yang membawa obor pertama kali diserahkan kepada Petinggi Desa Kawak.
Sejurus dengan itu, dilakukan pembacaan doa adat. Termasuk pengolesan kaki para pemain pertunjukan dengan minyak khusus. Racikan cairan tersebut menjadi penangkal api, supaya tidak membakar kulit.
Baca Juga: FULL TIME Semen Padang vs Persijap Jepara 0-2: Wasit Anulir Gol Iker Guarrotxena
Semua pemain melepas baju. Hanya menyisakan celana pendek hitam, saat membawakan atraksi tersebut.
Lampu-lampu dimatikan. Wasit dengan pakaian batik berjarik, meniupkan peluit tanda dimulainya permainan. Seiring dengan itu, Lapangan Balai Desa Kawak tersebut penuh sorak-sorai.
Setidaknya setengah jam, nyala batok kelapa yang dibakar tersebut membelah gelapnya malam. Semua mata menyaksikan. Ribuan penonton sesekali histeris, saat bola api keluarga dari lapangan dan mendekat.
Tak hanya itu, perang api dari pelepah kelapa juga mewarnai penyelenggaraan. Denting musik gamelan mengalun. Seakan melemparkan para pengunjung ke dalam masa-masa klasik.
Langit menjadi atap. Gerimis tak menghentikan jalannya prosesi. Hingga semua rampung pada pukul 22.15.
Petinggi Desa Kawak Eko Heri Purwanto menyampaikan bahwa pemeriahan sedekah bumi dengan penampilan tradisi dan atraksi wisata tersebut telah menginjak satu dekade. Berlangsung sejak 2016.
"Api adalah simbol semangat, untuk memerangi hawa nafsu, mencapai kejayaan," ungkapnya usai rampung acara, Selasa (21/4).
Menurutnya, penyelenggaraan tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Hanya berpindah tempat, tanpa mengurangi meriahnya acara.
"Kami ingin tetap mempertahankan sepakbola api ini di Desa Kawak, ke depan akan kami improvisasi, termasuk menggubah tarian," sebutnya.
Baca Juga: PERAJIN MEBEL DI JEPARA MENJERIT! Ongkos Finishing Mebel Naik Dua Kali Lipat
Lebih lanjut dijelaskan, sepakbola api merupakan satu ekspresi kebudayaan tersendiri bagi warga Desa Kawak. Dalam riwayatnya, dulu, antara pedukuhan yang berada berbatasan dengan sungai sering bersitegang.
"Dukuh Krajan, Tempur, dan Setro, dulunya sering emosi, terjadi perselisihan pendapat. Akhirnya disatukan dengan berkegiatan, gotong royong, untuk memajukan Desa Kawak. Seperti saat ini," ujarnya.
Dalam penyelenggaraannya, prosesi tersebut melibatkan para pemuda. Supaya semakin guyub rukun, tandang gawe.
"Intinya makna sepakbola api, untuk mencapai kemakmuran dan kerukunan. Puncaknya nanti Kamis (23/4) ada Festival Jondang dan malamnya pertunjukan wayang kulit," ujarnya.
Dalam Festival Jondang, dilakukan arak-arakan, melakukan doa bersama di Punden Sitinggil.
"Maknanya Festival Jondang, kami ingin mempertahankan budaya yang ada. Jondang sebagai tempat penyimpanan barang berharga zaman dahulu. Kami aplikasikan dalam kegiatan tersebut, bentuk syukur. Bojo ngandang, ngandang rezekine, ngandang kemakmuran lan keselametane," jelasnya.
Puncaknya ialah pada malam Jumat, dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Sasmito Cokro. Membawakan lakon Wahyu Katentreman.
Rangkaian hal tersebut juga bagian dari upaya untuk menjaga status Desa Wisata dan Budaya.
"Harapannya kami selaku orang Jawa jangan sampai loyo dalam uri-uri tradisi, mempertahankan budaya lokal, generasi muda mengenal budaya daerahnya," ucapnya.
Pada saat yang sama, kiper sepakbola api, Taufik (25) mengatakan sudah lima kali ikut bermain.
"Ya ikut meramaikan Desa Kawak, dibilang panas sih nggak, yang penting meriah," ucapnya.
Sementara itu, pemain sepakbola api, Ibnu Rozak mengaku juga sudah lima kali ikut bermain dan memeriahkan acara.
"Rasanya senang, saya tadi main sebagai gelandang tengah. Gak panas, sudah diolesi minyak khusus," tanggapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat menyampaikan sepakbola api dalam rangka sedekah bumi Desa Kawak menjadi satu identitas daerah.
"Kami bangga karena apa yang kita saksikan bersama ini, menunjukkan persatuan di antara seluruh masyarakat. Semoga semakin lestari dan dapat terus diadakan," pungkasnya.(fik)
Editor : Abdul Rochim