JEPARA – Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan antusiasme ribuan warga yang memadati kawasan Pecinan Welahan, Jumat (17/4).
Mereka berkumpul sejak siang untuk menyaksikan kirab budaya tolak balak dalam rangka perayaan ulang tahun Paduka YM Kongco Hian Thian Siang Tee.
Sejak pukul 12.30, suasana sudah dipenuhi irama tabuhan tambur, simbal, dan gong yang bertalu cepat.
Baca Juga: PERAJIN MEBEL DI JEPARA MENJERIT! Ongkos Finishing Mebel Naik Dua Kali Lipat
Dentuman ritmis tersebut membakar semangat para peserta maupun penonton yang memadati gang-gang hingga area pasar.
Atraksi semakin meriah dengan hadirnya liong yang meliuk-liuk mengikuti gerakan pemain, serta barongsai yang tampil lincah dan sesekali mendekati penonton.
Namun, pusat perhatian utama tertuju pada tandu sakral (joli) yang mengusung rupang dewa.
Tandu tersebut tidak sekadar diarak, melainkan digoyang, dihentakkan, bahkan dibawa berlari maju mundur oleh para pembawanya, mulai dari remaja hingga lansia.
Gerakan ini memiliki makna spiritual sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol energi untuk menolak bala.
Kirab ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan di Kelenteng Hian Thian Siang Tee, yang menurut penanggalan Tionghoa jatuh pada Sa Gwee 1 atau Imlek 2577.
Rangkaian ritual telah dimulai sejak Selasa (14/4) melalui sembahyang bersama.
Ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan, Dicky Sugandhi, menyebut kirab tahun ini diikuti 32 kelompok dari berbagai daerah.
Peserta datang dari sejumlah kota di Pulau Jawa seperti Semarang, Kudus, Surabaya, hingga luar pulau seperti Padang.
“Ini tradisi tahunan untuk menyambut hari lahir Paduka YM Kongco Hian Thian Siang Tee. Maknanya sebagai tolak balak. Masyarakat di sini menerima tradisi ini, sehingga datang berbondong-bondong menyaksikan,” ujarnya.
Rute kirab sepanjang sekitar tiga kilometer menyusuri gang-gang sempit kawasan Pecinan Welahan.
Warga tampak berjejer di depan rumah, warung, bahkan naik ke tempat yang lebih tinggi demi menyaksikan prosesi.
Setiap kali tandu melewati gerbang kelenteng, suasana kembali memuncak, menandai titik-titik sakral perjalanan.
Menariknya, perayaan ini juga menampilkan perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.
Wayang potehi tampil berdampingan dengan wayang kulit, mencerminkan harmonisasi budaya yang terus dijaga.
“Di sini budaya Tionghoa tapi juga nguri-uri budaya Jawa. Bahkan wayang kulit digelar hingga tujuh kali setiap tahun di kelenteng ini,” imbuh Dicky.
Puncak perayaan akan digelar pada Minggu (19/4) melalui sembahyang besar bersama. Sementara kirab menjadi momentum utama yang memadukan unsur ritual, budaya, dan hiburan rakyat.
“Ini dilaksanakan di Jepara karena dianggap oleh orang Kelenteng Welahan salah satu yang tertua di Indonesia,” ucapnya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, melihat potensi besar dari tradisi ini untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan.
“Ini potensi luar biasa. Tahun depan akan kami konsep lebih baik, supaya bisa menggerakkan UMKM dan menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.
Ia juga menilai kawasan Pecinan Welahan berpeluang ditata seperti kawasan pecinan di kota lain tanpa menghilangkan karakter khasnya.
“Ini kelenteng tertua. Kirab dihadiri 32 kelenteng se-Indonesia. Potensi yang luar biasa agar dikembangkan,” pungkasnya. (fik)