Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Nyepi di Desa Plajan Jepara: Hening Total, Tanpa Takbir Keliling Cermin Toleransi Antarumat Beragama

Abdul Rochim • Kamis, 19 Maret 2026 | 21:56 WIB

SEPI: Kondisi area Pura Dharma Loka turut Jalan Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji tampak sepi dalam momen Nyepi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
SEPI: Kondisi area Pura Dharma Loka turut Jalan Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji tampak sepi dalam momen Nyepi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

JEPARA – Keheningan menyelimuti Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, saat umat Hindu menjalankan Hari Raya Nyepi. 

Sejak Kamis (19/3) pukul 06.00, ratusan umat menjalani Catur Brata Penyepian yang berlangsung selama 24 jam hingga Jumat pagi.

Suasana sunyi tampak jelas di sekitar Pura Dharma Loka.

Aktivitas masyarakat nyaris berhenti total. Jalanan lengang, rumah-rumah tertutup, dan yang terdengar hanyalah suara alam seperti kicau burung dan serangga.

Dalam Catur Brata Penyepian, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama.

Yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak mencari hiburan (amati lelangunan).

Seluruh aktivitas dilakukan dengan penuh kesadaran sebagai bentuk pengendalian diri.

Perayaan Nyepi tahun ini juga terasa istimewa karena diiringi sikap toleransi dari masyarakat sekitar.

Warga Muslim di Desa Plajan turut menjaga kekhusyukan dengan tidak menggunakan pengeras suara luar untuk azan dan meniadakan takbir keliling.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Jepara, Ngarbianto, menyebut bahwa semangat saling menghormati ini telah terbangun melalui koordinasi lintas tokoh masyarakat.

Ia menjelaskan, setelah Nyepi, umat Hindu akan melanjutkan rangkaian ibadah dengan Ngembak Geni sebagai simbol menghidupkan kembali semangat kehidupan, serta Dharma Shanti yang menjadi momen saling memaafkan.

Salah satu warga, Diran (75), memilih menjalani Nyepi dengan sederhana. Ia tidak keluar rumah dan telah menyiapkan kebutuhan sehari sebelumnya agar tidak perlu beraktivitas selama penyepian.

Menurutnya, makna “geni” bukan sekadar api secara fisik, tetapi juga simbol menahan hawa nafsu dan emosi.

Karena itu, Nyepi menjadi waktu yang tepat untuk menenangkan diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Haryanto (36), yang memanfaatkan momen ini untuk memperdalam spiritualitas dan menyiapkan sarana ibadah seperti sesaji.

Ia menilai Nyepi bukan hanya soal ritual, tetapi juga tentang kesadaran diri dan ketulusan dalam berbakti.

Baginya, pengendalian diri menjadi kunci dalam menjalani kehidupan.

Keheningan Desa Plajan saat Nyepi bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan refleksi spiritual yang mendalam.

Momen ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, sekaligus memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman. (fik)



Editor : Abdul Rochim
#toleransi beragama #Nyepi 2026 #Desa Plajan #Catur Brata Penyepian #Pura Dharma Loka #Ngembak Geni #Dharma Shanti #Parisada Hindu Dharma Indonesia #suasana hening #tradisi Nyepi #kerukunan umat #umat hindu #Spiritualitas #jepara #Pakis Aji