JEPARA — Umat Hindu di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, melaksanakan ritual mecaru dengan penuh kekhidmatan pada Rabu (18/3), sehari sebelum Hari Suci Nyepi.
Prosesi ini menjadi simbol penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Ketua Pokjaluh Agama Hindu Kabupaten Jepara, Totok Harmanto, menjelaskan bahwa mecaru merupakan warisan leluhur yang sarat nilai spiritual.
Baca Juga: Proyek Sekolah Rakyat di Jepara Terpaksa Mandek Sementara, Ini Alasannya
Ritual ini dimaknai sebagai upaya menata alam sekaligus mengendalikan diri sebelum memasuki Nyepi.
Mecaru dipersembahkan kepada Bhuta Kala sebagai simbol kekuatan alam, bukan untuk ditakuti, melainkan diajak berdamai demi menciptakan harmoni.
Dalam ajaran Hindu, keseimbangan ini dikenal sebagai hubungan antara buana agung (alam semesta) dan buana alit (manusia).
Selain itu, ritual ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas kehidupan yang diberikan. Umat diajak menahan hawa nafsu serta menjaga keselarasan diri dengan lingkungan sekitar.
Totok menegaskan, mecaru dan Nyepi adalah satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
Mecaru berfungsi sebagai pembersihan lahiriah, sedangkan Nyepi menjadi momentum penyucian batin.
Saat Nyepi, umat menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Keempatnya bertujuan menciptakan keheningan total sebagai sarana refleksi diri.
Pelaksanaannya pun memiliki tingkatan, mulai dari nista, madya, hingga utama, yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing umat.
Lebih jauh, nilai ekoteologi dalam mecaru dan Nyepi juga menjadi sorotan.
Keheningan selama Nyepi memberikan kesempatan bagi alam untuk pulih dari aktivitas manusia, sekaligus mengurangi polusi.
Melalui perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih harmonis dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan.