Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Debu Pemasakan Aspal di Sekitar Bandara Dewadaru di Jepara Bikin Sesak Napas dan Tidak Nyaman

Admin • Senin, 16 Maret 2026 | 18:49 WIB
TANPA FILTER: Kondisi AMP yang diduga menjadi sumber debu yang meresahkan warga Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. (BAMBANG ZAKARYA UNTUK RADAR PATI)
TANPA FILTER: Kondisi AMP yang diduga menjadi sumber debu yang meresahkan warga Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. (BAMBANG ZAKARYA UNTUK RADAR PATI)

JEPARA — Aktivitas mesin pemasak aspal di kawasan sekitar Bandara Dewadaru, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, dikeluhkan warga setempat. Debu pekat dan bau menyengat dari proses tersebut disebut mengganggu kesehatan. Serta kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Keluhan paling banyak datang dari warga RT 5 RW 2 Dusun Kemujan. Mereka menyebut debu hitam dari aktivitas produksi aspal kerap masuk ke rumah-rumah warga melalui ventilasi, bahkan menempel hingga ke seprei kasur di kamar.

Terdapat setidaknya 30 rumah yang terdampak. Sebab berdekatan dengan aktivitas tersebut di Asphalt Mixing Plant (AMP) tersebut.

Baca Juga: Pemkab Jepara Perluas Program Kartu Sarjana, Bantu Mahasiswa Kesulitan Bayar UKT

Salah satu warga, Anik Suryati, mengatakan pihaknya terdampak langsung.

Permukiman warga berada sangat dekat dengan lokasi mesin pemasak aspal yang berada di sisi barat permukiman, tepat di area sekitar pagar bandara.

Menurutnya, sejak mesin mulai beroperasi sejak 10 hari terakhir, debu dan asap hitam terus terbawa angin ke arah permukiman, terlebih saat musim angin baratan.

Kondisi itu membuat warga merasa tidak nyaman, terutama pada malam hari.

Ia menegaskan, warga sebenarnya tidak menolak pembangunan jalan yang sedang dilakukan di Karimunjawa.

Baca Juga: Tiga Calon Sekda Kudus Diajukan ke BKN , Target April 2026 Dilantik

Namun ia berharap, ada solusi agar dampak debu tidak langsung mengenai permukiman.

“Asapnya menghitam, mau tidur ngepel, bangun tidur ngepel. Kami bukan tidak mau jalannya tidak diperbaiki, hanya meminga solusi agar debu tidak ke sini. Cerobongnya ditinggikan atau dikasih saringan, supaya masyarakat aman,” ungkapnya pada Senin (16/3).

Debu hitam disebut cepat menempel di lantai maupun perabot rumah tangga sehingga ia harus menyapu, mengepel, hingga mencuci berkali-kali dalam sehari.

Kendati demikian, warga menegaskan mereka tidak ingin proyek pembangunan jalan dihentikan.

Masyarakat justru mendukung perbaikan infrastruktur tersebut, namun berharap pelaksana proyek memperhatikan dampak lingkungan terhadap permukiman.

“Jalan bagus tentu kami senang. Tapi kami juga ingin tetap sehat. Harapannya ada solusi supaya debunya tidak sampai ke rumah warga,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Nur Rokhmawati. Ia mengaku anaknya jadi sering mengalami sesak napas, sejak proyek dan mesin AMP beroperasi.

Menurutnya, selain debu, bau menyengat dari proses pemasakan aspal juga sangat terasa di lingkungan permukiman.

Baca Juga: Jawa Tengah Optimistis Tradisi Mudik Lebaran Dorong Perputaran Ekonomi Daerah

Kondisi itu membuat warga merasa terganggu, terutama saat malam hari.

Anakku sesak napas, simbahe juga umat (kambuh) tanpa mandeg (berhenti), disemprot (Ventolim Inhaler) tiga kali gak manjur,” ucapnya.

Seorang lansia yang merupakan warga setempat, Sunipah, bahkan mengaku kesulitan tidur karena kondisi tersebut.

Ia mengatakan hampir setiap malam tidak bisa beristirahat dengan nyaman, sejak aktivitas itu berlangsung.

Sewengi ora iso turu,” tanggapnya pada Senin (16/3).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya adanya aktivitas AMP tersebut merupakan bagian dari proyek perbaikan jalan di Karimunjawa.

Material didatangkan menggunakan kapal tongkang, kemudian diangkut dengan truk untuk pekerjaan perbaikan jalan.

Proyek tersebut merupakan bagian dari program Inpres Jalan Daerah (IJD) dengan total panjang periode pertama pekerjaan sekitar 3,3 kilometer, terdiri dari sekitar 2,8 kilometer di Desa Kemujan dan sekitar 500 meter di Pulau Karimunjawa.

Warga berharap proyek tersebut tetap berjalan, namun dengan pengelolaan dampak lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.

Radar Kudus telah mencoba meminta keterangan kepada petinggi setempat. Namin hingga saat ini belum mendapatkan balasan. (fik/him)

 

 

Editor : Admin
#pemasakan aspal #jepara #karimunjawa #bandara dewadaru