JEPARA — Menjelang waktu berbuka puasa, Rabu (25/2) sore, suasana di pusat Kota Jepara justru semakin meriah.
Ribuan warga tumpah ruah memadati kawasan mulai dari depan Museum Kartini, Pendopo Kabupaten, hingga Kelenteng di kawasan Pecinan.
Dentum tambur mengiringi dua barongsai yang lincah menari di tengah kerumunan.
Anak-anak yang datang bersama orang tuanya tampak antusias mendekat.
Dengan raut wajah campuran antara penasaran dan gugup, mereka menyelipkan tangan kecil ke mulut barongsai untuk memberikan angpao.
Gelak tawa dan jerit kegirangan pun pecah, meski ada pula yang refleks bersembunyi saat barongsai bergerak mendadak.
Tak jauh dari situ, para pemain liong dengan naga panjang berwarna hijau beratraksi membentuk lingkaran, berputar dan meliuk mengikuti irama musik.
Gerakan yang serempak dan enerjik itu sukses memikat perhatian ribuan pasang mata yang menyaksikan.
Festival Imlek yang untuk pertama kalinya digelar secara resmi di Jepara ini tak hanya menampilkan kesenian tradisional.
Panitia juga membagikan angpao kepada 50 anak yatim.
Satu per satu mereka maju menerima bingkisan, menghadirkan suasana hangat di tengah kemeriahan.
Lampion-lampion merah menggantung di sepanjang kawasan Pecinan, memperkuat nuansa perayaan.
Spanduk bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” berdampingan dengan ucapan “Gong Xi Fa Cai” yang dibentangkan, bahkan muncul dari mulut barongsai, menjadi simbol harmoni di tengah keberagaman.
Ketua Perayaan Imlek Jepara, Harun Lin, menyebut festival perdana ini sebagai bukti nyata toleransi masyarakat.
Ia menjelaskan, perayaan tahun ini berada dalam naungan shio kuda api yang melambangkan semangat, kerja keras, keberanian, dan ketangguhan.
“Kuda melambangkan energi positif dan kebebasan untuk bergerak cepat menghadapi tantangan.
Ini bisa menjadi inspirasi masyarakat Jepara agar terus maju, memperkuat persatuan, dan membangun daerah dengan optimisme,” ujarnya.
Ia berharap, festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang dinanti warga.
Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa Imlek merupakan bagian dari kekayaan budaya dan wujud toleransi di Kota Ukir.
Menurutnya, perayaan yang digelar masyarakat Tionghoa bersama Pemerintah Kabupaten Jepara menunjukkan tidak adanya sekat antarwarga.
“Kita menghargai saudara-saudara yang merayakan Imlek, sekaligus yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kita semua bersaudara,” katanya.
Ia juga mendorong penataan kawasan Kampung China agar semakin menarik sebagai destinasi wisata.
Warga diajak mempercantik lingkungan dengan warna-warna cerah guna menambah daya tarik kota dan menggerakkan UMKM, khususnya sektor kuliner.
Senja berganti malam, lampion merah menyala terang di antara arus warga yang perlahan meninggalkan lokasi.
Sebagian menuju kawasan sekitar Alun-alun Jepara I untuk berbuka puasa, sementara lainnya masih menikmati suasana.
Bagi Mas Wiwit, festival ini menjadi warna baru bagi Jepara dan diharapkan mampu mempererat keguyuban masyarakat dalam bingkai keberagaman. (fik)
Editor : Abdul Rochim