JEPARA — Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili disambut penuh sukacita dan optimisme oleh umat di Kelenteng Welahan.
Dalam kalender Tionghoa, tahun ini memasuki Tahun Shio Kuda dengan elemen api. Kombinasi tersebut diyakini membawa energi kuat, semangat tinggi, serta dorongan untuk melakukan perubahan positif.
Salah satu pengurus kelenteng sekaligus pemimpin peribadatan, Budianto, menjelaskan bahwa elemen api menjadi unsur dominan tahun ini.
Api dimaknai sebagai simbol energi, keberanian, dan transformasi.
Namun, dalam perhitungan astrologi Tionghoa, api juga dapat berbenturan dengan beberapa shio tertentu atau yang dikenal dengan istilah “chiong”.
“Di tahun Kuda Api ini, yang mengalami chiong antara lain Shio Tikus, Kelinci, Kuda, dan Kerbau. Energinya berbenturan, sehingga perlu melakukan upaya penyeimbang,” ujarnya saat ditemui Senin (16/2).
Sebagai bentuk penyeimbang, sebagian umat menjalankan ritual Chi Siao atau Chi Swa serta Fang Sheng (melepas makhluk hidup).
Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol membuang kesialan sekaligus melepaskan hal-hal buruk dalam diri, diiringi dengan memberi kesempatan hidup bagi makhluk lain.
Menurut Budianto, praktik Fang Sheng umumnya dilakukan dengan melepaskan ikan lele.
Ikan ini dipilih karena biasanya dibeli langsung dari pasar tanpa pemesanan, sehingga berpotensi segera dikonsumsi.
Dengan membelinya lalu melepaskannya ke sungai, seperti Sungai Serang, umat meyakini telah memberi peluang hidup lebih panjang bagi makhluk tersebut.
“Lele menjadi simbol melepaskan segala keburukan yang dialami oleh mereka yang sedang chiong. Prinsipnya bukan sekadar ritual, tetapi memberi kesempatan hidup dan berkembang biak,” jelasnya.
Selain lele, belut juga diperbolehkan untuk dilepasliarkan.
Namun, ia mengingatkan agar tidak sembarangan melepas burung, terutama burung peliharaan atau hasil tangkapan.
Ini karena belum tentu mampu bertahan hidup di alam bebas dan justru berisiko mati atau dimangsa predator.
Prinsip utama Fang Sheng, tegasnya, adalah tidak menyiksa makhluk lain dan benar-benar memberi peluang kehidupan.
Pelaksanaan Fang Sheng biasanya menyesuaikan usia, yakni usia nasional ditambah satu tahun dalam hitungan Imlek. Misalnya, seseorang yang berusia 50 tahun akan dihitung menjadi 51 tahun dalam perhitungan tersebut.
Meski demikian, ritual ini bersifat sukarela dan tidak diwajibkan.
Bagi umat yang belum mampu secara finansial, cukup dengan bersembahyang dan memohon secara tulus agar terhindar dari kesialan.
Dalam mitologi perhitungan shio, Naga disebut memiliki posisi tertinggi meskipun bukan urutan pertama dalam siklus 12 shio.
Untuk tahun ini, shio yang dinilai cukup baik dan tidak mengalami chiong di antaranya adalah Naga.
Puncak perayaan Imlek di Kelenteng Welahan digelar pada malam pergantian tahun, Senin (16/2) sekitar pukul 23.00, melalui persembahyangan bersama.
Doa dipanjatkan tidak hanya untuk kepentingan pribadi umat, tetapi juga untuk bangsa dan negara.
“Kami mendoakan agar Indonesia dijauhkan dari mara bahaya, diberi kemakmuran, kerukunan, dan semakin utuh sebagai bangsa. Doa kami bersifat universal, bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk semua makhluk,” ungkapnya.
Budianto juga menegaskan bahwa tradisi di kelenteng sarat dengan akulturasi budaya lokal.
Setiap tahun digelar tujuh kali pagelaran wayang kulit sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
Selain itu, pada bulan tujuh Imlek dilaksanakan ritual King Hoo Ping atau sembahyang rebutan, yakni mendoakan arwah yang tidak disembahyangi keluarga serta membagikan beras kepada masyarakat.
Ia menepis anggapan bahwa Imlek hanya milik etnis atau agama tertentu.
Di Tiongkok, perayaan ini dikenal sebagai Festival Musim Semi yang menandai datangnya musim semi sekaligus awal kehidupan baru.
Dengan semangat Kuda Api yang penuh daya dan keberanian, umat di Welahan menyambut tahun baru dengan percaya diri serta optimistis menatap kehidupan yang lebih harmonis dan sejahtera.
“Imlek bisa dirayakan siapa saja, terlepas dari latar belakang agama maupun etnis. Ini momentum kebersamaan, harapan, dan pembaruan,” pungkasnya. (fik)
Editor : Abdul Rochim