JEPARA - Tempat usaha jamu gingseng oplosan yang diduga menyebabkan kematian lima orang dan tiga kritis itu, diketahui telah dirintis setidaknya 10 tahun lebih.
Di warung itu, juga ada fasilitas karaoke. Namun, baru berjalan sekitar tiga tahun terakhir.
Usaha itu, dimiliki oleh seorang pria berinisial R, warga RT 3/RW 3, Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara.
Informasi yang dihimpun Radar Pati dari warga setempat menyebutkan, selain menjual minuman jamu, warung itu juga menyediakan ruang karaoke. Termasuk minuman beralkohol.
Bangunan warung berada di bagian belakang rumah R. Dapur (bar) berdiri dengan atap sederhana berbahan asbes.
Sedangkan room karaoke telah memiliki bangunan permanen.
Di luar warung, ada tiga pasang meja dan kursi yang panjangnya satu hingga dua meter.
Di sudut paling belakang, bangunan berdempetan dengan kebun milik warga.
Di satu sisinya, bersebelahan langsung dengan kandang kambing milik warga sekitar.
Ruang karaoke memiliki panjang bangunan sekitar 15 meter dengan lebar 4 meter.
Berupa bangunan permanen dengan pintu kaca.
Jika ada yang ingin nyanyi, pihak pengelola bisa memanggilkan pemandu lagu atau LC terlebih dahulu.
Pasca kejadian maut tersebut, kompleks usaha itu telah dipasangi garis polisi.
Di sudut warung, masih tampak tumpukan botol minuman keras berbagai merek. Di antaranya merek Anker.
Tak hanya itu, R juga berencana memperluas usahanya itu.
Sejumlah batu pondasi dan bata ringan terlihat menumpuk di area belakang rumahnya.
Bahkan, sebagian tanah di lokasi tersebut, telah digali untuk persiapan pondasi bangunan baru.
Sementara itu, harga jamu di warung itu, dibanderol mulai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per gelas.
Sedangkan jika dibawa pulang dalam kemasan botol 1,5 liter, harganya mencapai sekitar Rp 40 ribu.
Mayoritas pelanggan berasal dari daerah sekitar. Namun, ada juga beberapa yang berasal dari luar kecamatan.
R juga diketahui pernah memiliki usaha serupa di Pantai Pungkruk.
Namun, kemudian R memilih fokus di warung yang berada di belakang rumahnya di Desa Suwawal Timur itu.
Kendati demikian, warga menilai keberadaan usaha tersebut meresahkan.
Selain suara karaoke yang kerap terdengar bising, tempat itu juga beroperasi setiap hari selama 24 jam.
Sebelum insiden jamu maut yang merenggut lima nyawa itu, sebelumnya sempat ada kejadian petaka serupa.
Usai minum, pelanggan pulang dan mengalami kecelakaan serta meninggal dunia.
Peristiwa itu, terjadi sekitar satu tahun lalu. (fik/lin)
Editor : Abdul Rochim