Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

BUSET! Balai Besar Modifikasi Arus Deras yang Hambat Pembuatan Jalur Darurat di Desa Tempur Jepara

Abdul Rochim • Selasa, 13 Januari 2026 | 20:22 WIB
FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS  TERHENTI: Alat berat masih belum dapat membuat pijakan untuk mengalihkan arus Sungai Gelis, Selasa (13/1).
FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS TERHENTI: Alat berat masih belum dapat membuat pijakan untuk mengalihkan arus Sungai Gelis, Selasa (13/1).

JEPARA - Upaya menyambung kembali jalur yang terputus menuju Desa Tempur masih tertahan.

Derasnya arus Sungai Gelis membuat alat berat belum mampu bekerja.

Debit air yang terus meninggi akibat hujan berkepanjangan memaksa tim di lapangan menunda pengerjaan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Desa Tempur terisolasi sejak Jumat (9/1) setelah badan jalan ambrol.

Akses listrik dan jaringan komunikasi yang sempat pulih kembali terputus Selasa, (13/1).

Wilayah tersebut juga dikepung bencana longsor. Data BPBD Jepara mencatat hingga Selasa (13/1) terdapat sedikitnya 24 titik longsor.

Tidak ada korban jiwa, namun nilai kerugian ditaksir cukup besar.

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto mengatakan, kondisi cuaca ekstrem menjadi hambatan utama.

Curah hujan tinggi memicu peningkatan debit sungai secara signifikan, sehingga pekerjaan belum bisa dilanjutkan.

“Sampai kemarin kami belum dapat bekerja karena alam masih ekstrem,” ujarnya saat meninjau lokasi di kawasan Kaliombo.

BPBD sebenarnya telah menyiapkan skema rekayasa aliran sungai agar alat berat bisa menjangkau sisi timur sungai.

Upaya serupa sempat dicoba, namun derasnya arus membahayakan keselamatan operator. Karena itu, pekerjaan fisik dihentikan sementara.

Arwin menyebut, begitu debit air mulai turun, para operator akan dikumpulkan kembali untuk melakukan percobaan lanjutan.

Saat ini sudah disiagakan empat unit ekskavator PC200 kelas 20 ton, termasuk tipe long arm, ditambah empat ekskavator kecil dan satu loader.

Sambil menunggu kondisi memungkinkan, tim memusatkan kegiatan pada pengumpulan batu yang akan digunakan sebagai material bronjong, guna menahan laju air dan memperkuat struktur jalan.

BPBD juga telah menjalin koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bahkan, komunikasi dilakukan melalui video call pada Senin (12/1) untuk meminta dukungan Tim Reaksi Cepat dari pemerintah pusat.

Di sisi lain, kebutuhan dasar warga tetap dipenuhi. Logistik pangan, obat-obatan, serta tenaga kesehatan disiagakan di balai desa. Penanganan darurat berjalan sembari menunggu cuaca membaik.

Secara teknis, bagian jalan yang tergerus akan diperkuat dengan batu dan bronjong.

Sebanyak 100 lembar bronjong telah tiba, sementara 400 lembar lainnya masih dalam pengiriman.

Aliran sungai nantinya akan dibendung menggunakan cyclop untuk mengembalikan badan jalan yang hilang.

Arwin menegaskan, perbaikan dilakukan dengan prinsip rehabilitasi dan rekonstruksi “build back better”.

Jika sebelumnya lebar jalan hanya sekitar tiga meter, ke depan ditargetkan menjadi 4,5 meter, dengan panjang penanganan sekitar 60 hingga 70 meter, termasuk titik-titik lain yang terdampak.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Sudarto menyatakan, pihaknya siap melakukan penanganan cepat dengan berkoordinasi bersama pemerintah provinsi.

Penanganan sementara akan difokuskan pada rekayasa aliran sungai, agar jalan dapat kembali difungsikan.

Untuk sementara pihaknya akan arahkan aliran ke sempadan sisi timur menggunakan bronjong.

"Permanennya bisa cari alternatif lain. Sebab kalau masih tetap menggunakan jalan ini, dikhawatirkan akan terjadi longsor dari bukit atau banjir,” jelasnya. (fik/him)

Editor : Abdul Rochim
#modifikasi arus sungai #Desa Tempur Jepara terisolasi #warga Desa Tempur bangun jalan darurat #longsor desa tempur jepara #rekayasa aliran sungai