JEPARA – Dugaan keracunan makanan menimpa sejumlah siswa SDN 2 Jatibarat, Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan.
Total ada 11 siswa dari berbagai jenjang kelas yang harus mendapat penanganan medis setelah mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi jajanan di sekitar sekolah pagi.
Peristiwa ini terjadi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Sekitar pukul 07.00, beberapa siswa membeli jajanan berupa mi goreng dari pedagang yang biasa mangkal di area sekitar sekolah.
Tak berselang lama, ketika pelajaran sedang berlangsung, para siswa mulai menunjukkan gejala tidak normal.
Guru kelas I SDN 2 Jatibarat, Zuliyati, mengungkapkan bahwa keluhan awal muncul sekitar pukul 08.00.
Saat itu, beberapa siswa mengeluh sakit perut dan ingin buang air besar. Awalnya ia menduga hanya gangguan pencernaan biasa.
Karena rumahnya dekat sekolah, ada dua anak saya izinkan pulang.
"Tapi setelah itu, siswa lain mengeluh mual dan muntah. Dari situ saya mulai curiga,” ujarnya saat ditemui di Puskesmas Pecangaan.
Kondisi semakin mengkhawatirkan ketika jumlah siswa yang mengalami keluhan terus bertambah.
Bahkan sempat terpikir penanganan tradisional, namun karena kasusnya meluas, pihak sekolah memilih langkah medis.
Dari pendataan sementara, korban berasal dari lintas kelas.
Rinciannya, dua siswa kelas I, satu siswa kelas II, empat siswa kelas III, tiga siswa kelas IV, dan satu siswa kelas V. Enam di antaranya laki-laki dan lima perempuan.
Pihak sekolah kemudian menghubungi bidan desa.
Setelah dilakukan konsultasi di Balai Desa Pulodarat dan mempertimbangkan jumlah korban yang cukup banyak, seluruh siswa dirujuk ke Puskesmas Pecangaan sekitar pukul 09.00.
Penanganan medis dilakukan setelah mendapat persetujuan orang tua masing-masing siswa.
Dari 11 anak yang diperiksa, satu siswa harus menjalani perawatan intensif dengan pemasangan infus karena kondisinya paling berat.
Sementara 10 siswa lainnya membaik setelah mendapat obat dan diperbolehkan pulang.
Sisa jajanan yang diduga menjadi sumber keracunan langsung diamankan untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara pun turun tangan dengan melakukan penyelidikan epidemiologi.
Kepala Dinkes Jepara, Hadi Sarwoko, menyampaikan bahwa sampel makanan telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jepara.
“Sampel sudah kami periksa di Labkesda. Saat ini masih menunggu hasil,” katanya.
Plt Sekretaris Dinkes Jepara, Hesti Prihandari, menambahkan bahwa dugaan sementara mengarah pada jajanan mi yang dikonsumsi siswa.
Seluruh korban diketahui mengonsumsi makanan dari pedagang yang sama.
Pihaknya khawatir pedagang tersebut berpindah-pindah lokasi.
"Karena itu, kami sudah mengingatkan seluruh puskesmas untuk meningkatkan kewaspadaan jika ditemukan kasus serupa,” jelasnya.
Dinkes juga berkoordinasi dengan pihak sekolah agar segera melapor jika ada siswa lain yang mengalami keluhan lanjutan.
Dokter IGD Puskesmas Pecangaan, dr Eva Nuruliyana, menyebutkan bahwa saat tiba di puskesmas, dua siswa dalam kondisi sangat lemas, sementara yang lain mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.
“Saat ini satu siswa laki-laki kelas III masih dirawat karena muntah dan diare berulang. Kondisinya terus kami pantau,” terangnya.
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi pengawasan jajanan di lingkungan sekolah, guna mencegah kejadian serupa terulang. (fik/him)
Editor : Abdul Rochim