Tua, muda, hingga anak-anak terlibat langsung dalam arak-arakan bendera Sang Saka tersebut.
Sebelum dimulai kirab, pada pukul 10.15 tokoh masyarakat, warga hingga pemerintah memulai acara dengan pembacaan tahlil dan doa di Punden Mbah Sumo Wijoyo.
Ketua DPRD Kabupaten Jepara Agus Sutisna serta Dandim 0719/Jepara Letkol Arm Khoirul Cahyadi juga tampak turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Setelah rampung kirim doa dan mengharap doa keselamatan, Dandim 0719/Jepara serta Ketua DPRD berkesempatan melepas para peserta kirab.
Jalannya kirab dimulai pada pukul 10.30 dari kompleks area Punden Mbah Sumo Wijoyo dan berakhir di Balai Desa Bantrung, yang berjarak sekitar 6 kilometer.
Peserta kirab yang terdiri dari 16 RT di Desa Bantrung kompak, berjalan beriringan.
Sembari menggemakan lagu nasional hingga lagu bernuansa Islami.
Para warga dan pengunjung lain tampak menyaksikan di depan hingga atap-atap rumah.
Mereka ingin menyaksikan bentangan bendera sepanjang 1000 meter yang membuat jalanan memerah dan memutih.
Berjarak beberapa mil, di kiri-kanan jalan, juga disediakan air mineral ataupun air dingin dari panitia dan sejumlah warga secara sukarela.
Peserta kirab barisan belakang baru mencapai garis finish pada pukul 13.00.
Petinggi Desa Bantrung Nur Soleh menyebutkan bahwa kegiatan kirab bendera merah putih tersebut merupakan kali pertama diadakan.
Hal itu ditujukan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-80 atau 17 Agustus 2025.
"Ini juga dalam rangka kegiatan sedekah bumi Desa Bantrung. Karena kebetulan sedekah bumi di desa kami itu sendiri bertepatan dengan Agustusan, sehingga dimeriahkan secara bersamaan," ungkapnya di sela-sela kirab.
Nur Sholeh juga menyampaikan, hal itu juga disematkan dalam serangkaian Bantrung Culture Festival yang kini telah terselenggara ke-4 kalinya.
"Sehingga ini juga sebagai salah satu upaya untuk memperingati HUT RI ke-80. Kami memberdayakan semua elemen masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, konsep dari kirab bendera merah putih sendiri ialah digagas oleh para pemuda yang juga tergabung dalam karang taruna.
"Konsepnya yang membuat adalah pemuda, karang taruna. Mereka memiliki ide untuk membentangkan bendera merah putih 1000 meter ini. Bendera dikira dari makam Mbah Sumo Wijoyo menuju Balai Desa dengan jarak sekitar 6 km," ucapnya.
Pihaknya menyampaikan di Desa Bantrung amat mendukung dan ingin melestarikan hal-hal yang berbau adat tradisi.
"Ini tahun ke-4 kami menggelar Bantrung Culture Festival. Ada banyak kegiatan seni dan budaya, yang pada kali ini juga ada pembentangan bendera merah putih," katanya.
Sholeh mengatakan, di antaranya pihaknya ingin mengorbitkan potensi lokal.
Dengan menyelipkan dalam acaranya Festival Sejuta Jagung, di mana para warga dapat membakar jagung secara saksama di makam usai prosesi kirab bendera.
"Mengangkat potensi dari desa yakni pertanian. Sehingga nanti bisa menjadi ikonnya Desa Bantrung. Supaya masyarakat betul-betul memiliki rasa handarbeni (memiliki, Red) terhadap desa ini," katanya.
Persiapan pun dilakukan cukup matang, setidaknya sejak tiga bulan yang lalu.
"Nanti juga akan ada pagelaran wayang dan ketoprak. Kami ingin nguri-nguri budaya supaya tidak punah. Ini bagian dari nasionalisme kita sebagai Bhinneka Tunggal Ika," tegasnya.
Salah satu peserta kirab, warga RT 13/RW 4 Dian Ayu, 25, tampak sumringah dapat terlibat dalam acara.
Sekalipun ia merupakan warga baru, akan tetapi turut digandeng dalam kegiatan.
"Saya asli Pemalang, baru pindah ke sini. Jadi warga baru. Senang, ramai dan seru," ringkasnya sambul melempar senyum.
Terpisah, Ketua DPRD Kabupaten Jepara Agus Sutisna menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi betul kegiatan yang diinisiasi di tingkat desa tersebut.
Menurutnya keguyuban dan persatuan itu dapat menjadi bekal pembangunan di tingkat desa.
"Kami hadir untuk turut memeriahkan dan memberikan semangat. Dalam pembentangan bendera merah putih sepanjang 1000 meter. Ini juga melambangkan sebagai semangat dalam membangun desa," tanggapnya.
Pada saat yang sama, Dandim 0719/Jepara Letkol Arm Khoirul Cahyadi pun mengaku salut atas kekompakan para warga.
"Sangat salut dan bangga dengan yang dilakukan warga di Desa Bantrung Kecamatan Batealit. Tentu ini juga senada dengan segenap kecamatan dan desa di Kabupaten Jepara, kita memiliki semangat nasionalisme yang sama," ucapnya.
Menurutnya, bendera Sang Saka tidak hanya sekadar simbol.
Pada 80 tahun Indonesia merdeka, sambung Dandim, jangan pernah lelah mencintai bangsa dan negara.
Selalu menghormati jasa para pahlawan yang telah bersusah payah untuk kemerdekaan Indonesia.
"Akan tetapi ada makna perjuangan dan kebanggaan. Sudah seyogianya mari kita ramaikan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengibarkan bendera merah putih di mana pun kita berada," tandasnya.
Diketahui, pada Minggu (3/8) lalu telah diadakan senam dan jalan sehat serta lomba PKK.
Baca Juga: Nadine Berlian Rika Prasetya Raih Gelar Best of the Best Lomba Model Budaya Kabupaten Pati
Festival sejuta jagung dan bantrung menari pada Minggu (10/8) malam usai prosesi kirab.
Bersambung bazar UMKM dari Minggu-Kamis (10-14/8).
Kemudian pada Senin (11/8) malam, dimeriahkan orkes Bantrung Tempo Doeloe.
Pada Selasa (12/8) juga terdapat Bantrung Bernyanyi (lomba karaoke), serta pada Rabu (13/8) dipersembahkan pagelaran wayang kulit.
Lalu pada puncaknya ditutup dengan pagelaran ketoprak pada Kamis (15/8) siang-malam.(fik/nana)
Editor : Syaiful Amri