JEPARA - Bupati Kabupaten Jepara Witiarso Utomo kembali menjalankan program Bupati Ngantor di Desa pada Rabu (2/7) kemarin.
Kali ini Desa Ngeling Kecamatan Pecangaan yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan tersebut.
Rombongan sampai di kompleks Balai Desa Ngeling pukul 11.00, disambut oleh para siswa SD dan penampilan tongtek dari warga setempat.
Pada waktu yang bersamaan, Bupati dan rombongan turut melarisi produk-produk kerajinan ataupun UMKM dari desa-desa di Kecamatan Pecangaan.
Dalam sesi penyampaian aspirasi oleh masyarakat, di antara yang menjadi bahasan ialah terkait dengan banjir yang acapkali terjadi di musim-musim penghujan.
Termasuk upaya untuk mencukupi kebutuhan air di area pertanian milik warga.
Petinggi maupun warga setempat, mengusulkan penataan tanggul khususnya area Desa Gerdu, Karangrandu hingga Pecangaan.
Termasuk upaya untuk menyediakan embung untuk menjawab kebutuhan air di musim kering.
Di samping usulan pembangunan infrastruktur jalan dan pemenuhan fasilitas desa, seperti ketersediaan lapangan olahraga, Ngeling juga direncanakan sebagai salah satu wisata religi.
Hal tersebut mendapatkan sambutan yang senada dengan hal yang sedang diproyeksikan di masa kepemimpinan Witiarso Utomo.
Pihaknya menyampaikan bahwa saat ini sedang fokus untuk mengusulkan hingga merealisasikan penyediaan embung untuk sarana prasarana lahan pertanian.
"Persoalan ketahanan pangan menjadi prioritas. Sudah ada sekitar 17 titik, akan kami identifikasi kembali. Di sini sudah ada Embung Ngeling, ini akan kami usulkan masuk kloter ketiga. Harapan saya selain daripada konsen pemerintah pusat, kami juga anggarkan pembelian ekskavator sehingga kalau ada yang nyumbat bisa segera dinormalisasi," ungkapnya kemarin.
Dari rencana 17 titik tersebut memiliki RAB sekitar Rp 40 miliar.
Namun pihaknya pun menekankan agar proses pembangunan yang ada juga menjadi perhatian pemerintah desa.
"Membangun dari desa, mau apa kami support. Seperti Embung Ngeling ini diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata berbasis pertanian. Seperti di Magelang ataupun Kendal, perlu mengajak anak muda karena yang punya kreativitas tinggi," katanya.
Apalagi di lokasi setempat seringkali dibuat sebagai titik kumpul dan nongkrong di kala sore maupun hari-hari libur.
"Ya memang yang suka wisata ini kan pemuda. Kami support dari segi kebijakan," ujarnya.
Lebih lanjut, Jepara sendiri termasuk dalam daerah penumpu pangan dengan produksi padi hingga 242.533 ton gabah kering giling (GKG) pada 2023.
Hal tersebut linier dengan rencana teknokratik Provinsi Jawa Tengah 2025-2029 sebagai penumpu ketahanan pangan dan rantai nilai industri nasional.
Sementara itu, luas kawasan pertanian pangan berkelanjutan di Jepara sebagaimana Perda RTRW sendiri sebesar 24.047 hektare.
Selama ini area pertanian Jepara masih bertumpu pada air hujan ataupun air sungai.
Sehingga dengan adanya embung diharapkan dapat untuk mencukupi areal pertanian ataupun setidaknya untuk kebutuhan air bersih.
Sebelumnya secara keseluruhan, telah dilakukan indentifikasi terhadap setidaknya 70 lokasi di Jepara.
Jika dirangking, muncul 10 titik dengan proyeksi kebermanfaatan yang luas.
Meliputi Embung Bungu Kecamatan Mayong dengan kapasitas tampung 102.933 meter kubik (m³).
Embung Bakalan di Desa Somosari Kecamatan Batealit 596.681 m³. Embung Sari Mulyo I di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara 150.000 m³. Embung Paren Kecamatan Mayong 40.000 m³. Embung Muryolobo Kecamatan Nalumsari 75.000 m³.
Kemudian Embung Kumborawi di Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo 60.000 m³. Embung Sewayut di Desa Karangnongko Kecamatan Nalumsari 75.000 m³. Embung Tukumbul Desa Jerukwangi Kecamatan Bangsri 40.000 m³. Embung Garlampit di Desa Kalianyar Kecamatan Kedung 39.000 m³.
Lalu Embung Kalianyar di Desa Kalianyar Kecamatan Kedung 38.058 m³.(fik/amr)
Editor : Syaiful Amri