JEPARA - Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sapto Renggo Desa Somosari Kecamatan Batealit terus berupaya mengorbitkan kawasan desa dengan ekowisata kopi.
Sepanjang ini, komoditas kopi masih banyak yang hanya merujuk kawasan Tempur, Kecamatan Keling.
Padahal di Desa Somosari pun punya potensi yang tak kalah menarik dan ikonik.
Anggota Pokdarwis Setempat, Muhammad Ainul Muttaqin menyebutkan pihaknya tengah membranding Somosari sebagai salah satu destinasi ekowisata kopi.
Konsep pariwisata yang diarahkan untuk fokus pada bentang alam dan berwawasan lingkungan tersebut digadang-gadang sebagai salah satu bentuk pemajuan daerah.
"Kami hari ini (kemarin, Red) kedatangan sekitar 52 pengunjung dari berbagai daerah dan organisasi. Kami belajar bersama mengenai hal-hal yang berhubungan seputar kopi," ungkapnya Minggu (22/6).
Proses pembelajaran dilakukan dengan mengajak peserta berkeliling kebun-kebun kopi milik warga setempat.
"Kami belajar mulai dari pengenalan jenis kopi, cara merawat kopi hingga cara menghargai kopi saat sudah diseduh," ucapnya.
Dari rangkaian proses yang ada disebutkan memang bukanlah hal yang mudah.
Karena perlu ketekunan dan konsistensi.
"Kami ini ini menjadi ekowisata yang sarat hal-hal positif bagi desa. Terlebih dapat meningkatkan perekonomian warga," ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan sejumlah burung endemik Jawa.
Seperti jalak kerbau, srikatan biru, srikatan kipas, sirtu, hingga derkuku.
Belasan burung itu diterbangkan dari area air terjun Banyu Anjlok.
"Ini mulanya diburu, jadi kami beli untuk dilepaskan kembali. Aman karena memang tujuannya untuk menciptakan ekosistem yang aman di kawasan Pegunungan Muria," jelasnya.
Alqin sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya dalam menjaga lingkungan.
Sebab, kondisi alam juga bergantung dengan flora maupun fauna di dalamnya.
"Penciptaan ekowisata ini, tujuannya adalah semangat pelestarian dari Muria untuk Indonesia," tutupnya. (fik/amr)
Editor : Syaiful Amri