JEPARA, RadarPati ID – Penjualan Pertamax di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Jepara anjlok!
Para pengendara kini berbondong-bondong beralih ke Pertalite setelah mencuatnya dugaan pengoplosan BBM yang menyeret nama Pertamina dan sejumlah pihak terkait dalam kasus korupsi.
Sejak Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkap adanya praktik blending RON 88 (Premium) dan RON 90 (Pertalite) menjadi RON 92 (Pertamax), kepercayaan masyarakat terhadap kualitas BBM mulai goyah.
Dampaknya? SPBU di Jepara mencatat penurunan penjualan Pertamax hingga 15-20 persen.
Manajer SPBU Pertamina 44.594.09 Mulyoharjo, M. Syukron Ni’am, mengakui bahwa para pelanggan yang sebelumnya setia menggunakan Pertamax kini beralih kembali ke Pertalite.
“Banyak pelanggan lama yang kembali membeli Pertalite. Dari penjualan harian rata-rata 2.500 liter, kini hanya sekitar 2.000 liter per hari,” ungkapnya.
Tak hanya itu, beberapa pelanggan bahkan mulai mempertanyakan kualitas dan spesifikasi Pertamax yang mereka beli.
Namun, pihak SPBU memastikan bahwa mereka tetap mengikuti SOP ketat dalam setiap pengujian BBM sebelum dijual ke masyarakat.
Pengawas SPBU 44.594.09 Mambak, Andi Malfinas, juga mengungkap bahwa isu ini memicu banyak pertanyaan dari pelanggan.
“Orang-orang mulai bertanya-tanya soal keamanan BBM. Tapi kami tetap menjalankan prosedur ketat untuk memastikan kualitas,” ujarnya.
Meski isu pengoplosan mengguncang, stok BBM di Jepara tetap aman.
Bahkan, menurut Ketua Paguyuban SPBU Jepara, M. Chairudin Ardy, meskipun penjualan Pertamax mengalami penurunan, dampaknya masih dalam batas wajar.
“Di Jepara ada 34 SPBU Pertamina. Rata-rata memang mengalami penurunan omzet sekitar 15 persen, tapi stok tetap aman dan sesuai standar,” jelasnya.
Dengan harga Pertamax di angka Rp 12.900 per liter, sementara Pertalite Rp 10.000 per liter, masyarakat kini lebih memilih opsi yang lebih murah di tengah isu yang berkembang. (fik/zen/him)
Editor : Abdul Rochim