Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Umat Hindu Plajan Rayakan Hari Raya Galungan, Begini Proses Perayaannya

Fikri Thoharudin • Kamis, 26 September 2024 | 00:13 WIB

KHIDMAT: Jro Mangku Pura Giri Tungka Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji Sujianto tengah memimpin persembahyangan kemarin. FIKRI THOHARUDIN/RADARPATI.ID
KHIDMAT: Jro Mangku Pura Giri Tungka Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji Sujianto tengah memimpin persembahyangan kemarin. FIKRI THOHARUDIN/RADARPATI.ID

JEPARA, RADARPATI.ID - Ratusan umat Hindu di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji merayakan Hari Raya Galungan.

Sembahyang di hari raya tersebut dilaksanakan di pura masing-masing dengan cara sederhana.

Di Desa Plajan sendiri terdapat setidaknya empat pura, meliputi Pura Giri Tungka Manggala Dharma, Puser Bumi dan Dharma Loka.

Sekira pukul 10.00 tampak anak-anak, pemuda, hingga orang tua mulai berbondong-bondong datang ke Pura Giri Tungka.

Secara khidmat mereka mengikuti serangkaian acara persembahyangan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Parsini, mengungkapkan peringatan Hari Raya Galungan disesuaikan dengan Desa Kala Patra atau sesuai tempat, waktu, identitas atau situasi yang ada.

"Disesuaikan dengan adat istiadat di Jawa tanpa mengurangi makna Galungan. Hari ini dirayakan persembahyangan Hari Raya Galungan, peringatan 210 hari atau enam bulan sekali. Dilaksanakan pada masing-masing pura," sebutnya.

Setelah Galungan akan disambung dengan Hari Raya Suci Kuningan yang jatuh pada Sabtu, 5 Oktober mendatang.

"Umat di sini (Plajan, Red) ada sekitar 200 kartu keluarga atau 800-an jiwa. Masing-masing melaksanakan persembahyangan di pura masing-masing, tidak jadi satu," ucapnya.

Sementara itu, di Pura Dharma Loka juga dilakukan persembahyangan.

Yang dimulai dari pukul 10.00 hingga 12.00.

Para umat Hindu tampak membawa banten atau sesaji masing-masing serta menjalani persembahyangan dengan khusyuk.

Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Kabupaten Jepara Totok Harmanto, menyampaikan sebelum persembahyangan dilakukan upacara mecaru.

Itu dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam.

Dengan meminta keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam momen peringatan Hari Raya Galungan.

"Mecaru ini kalau kita menghargai alam semesta, kita juga akan dihargai. Jika Galungan atau Kuningan memang berbeda, tidak seperti Nyepi yang penuh rangkaian acaranya," ucapnya.

Meskipun dalam prosesinya tak jauh berbeda dengan ibadah harian umat Hindu, akan tetapi persembahyangan di Hari Suci Galungan juga dimaknai sebagai hari di mana memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).

"Kita memenangkan diri kita utk tidak melakukan suatu yang tidak baik. Kemenangan itu kemenangan sebagaimana mengendalikan emosi dalam diri kita. Memang manusia tidak bisa lepas dari nafsu, serakah, iri, dengki, termasuk pikiran buruk. Tapi bagaimana itu diwujudkan dengan kebaikan, harus bisa dikendalikan," jelasnya.

Tak hanya itu, peringatan Hari Raya Galungan juga menjadi wujud kerukunan umat Hindu itu sendiri.

Selain wujud umat Hindu mengucapkan syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa.

"Untuk itu dibawa bermacam-macam banten, mulai dari polo gumantung atau polo kependem atau beragam buah-buahan yang tumbuh di bumi," ujarnya.

Pihaknya berharap dalam peringatan kali ini supaya umat Hindu diberi anugerah kesehatan dan kemudahan.

Termasuk kemampuan untuk bisa mengendalikan pikiran, tingkah laku dan perbuatan dengan dharma.

"Yang bertani ya bertani dengan baik, bekerja dengan baik, atau berwirausaha dengan baik. Semua akan menjadi poros kemenangan dalam diri mereka masing-masing," pungkasnya.(fik)

Editor : Abdul Rochim
#umat hindu #hari raya galungan #jepara #Pakis Aji #umat hindu jepara #Dharma #sembahyang