Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Jembul Tulakan Jadi Wujud Kecintaan Ratu Kalinyamat dengan Sultan Hadirin, Simak Kisahnya!

Abdul Rochim • Senin, 20 Mei 2024 | 21:37 WIB

 

SEMPAT RICUH: Warga saling berebut gunungan jembul yang diarak di jalanan Desa Tulakan, Donorojo kemarin. (MOH. NUR SYAHRI MUHARROM/RADAR KUDUS)
SEMPAT RICUH: Warga saling berebut gunungan jembul yang diarak di jalanan Desa Tulakan, Donorojo kemarin. (MOH. NUR SYAHRI MUHARROM/RADAR KUDUS)

JEPARA, RADARPATI.ID - Festival Jembul Tulakan kembali digelar meriah kemarin pagi (20/5).

Ada ratusan jembul yang digabungkan jadi delapan gunungan diarak keliling Desa Tulakan, Donorojo.

Dalam kirab jembul itu, beberapa kali sempat terjadi aksi ricuh dan saling dorong. Namun itu tak berlangsung lama.

Ratusan jembul yang dikirab itu pun jadi bahan rebutan masyarakat.

Sejak belum mulai, ratusan orang telah memadati jalanan utama Desa Tulakan.

Bahkan ada yang rela menonton dari atas balkon rumah-rumah warga atau sekolah.

Prosesinya berlangsung di depan rumah Petinggi atau Kepala Desa Tulakan, Budi Sutrisno.

Tradisi Jembul Tulakan tak lepas dari kehidupan Ratu Kalinyamat.

Setelah Sultan Hadirin, terbunuh oleh Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa wuda.

Dalam hal ini, tapa wuda atau telanjang tidak dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya.

Melainkan, Sang Ratu menjauhi sifat keduniawian dan kemewahan di istana.

Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen during bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Tidak sekali-kali saya turun dari pertapaan, jika belum bisa membersihkan kaki dengan jambul atau rambut Arya Penangsang),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat.

Dengan ucapan tersebut, diterima oleh masyarakat Tulakan bahwa kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu terhadap suaminya yang telah terbunuh oleh Arya Penangsang.

Sang Ratu dengan keikhlasannya, bersedia menanggalkan gemerlapnya kehidupan istana untuk mendapatkan keadilan Yang Maha Kuasa.

Budi menerangkan, jembul ini mempunyai ciri khas berupa golek kayu atau patung yang diletakkan dipuncak gunungan.

Dalam perkembangan selanjutnya Jembul Tulakan dijadikan sarana Sedekah Bumi Desa Tulakan.

Kegiatan tersebut rutin digelar setahun sekali tiap Senin Pahing Bulan Dzulqa`dah.

”Ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan dan karunia terhadap wilayah dan masyarakat Desa Tulakan.

Yang telah memberikan limpahan hasil bumi melimpah,” ujar Budi Sutrisno, Petinggi Tulakan.

Jembul Tulakan telah mendapatkan sertifikat sebagai warisan budaya tak benda dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Pesta Lomban dan Obor-obor Tegalsambi pada tahun 2020 lalu.

Penjabat (PJ) Bupati Jepara Edy Supriyanta menyempatkan hadir untuk menyaksikan Festival Jembul Tulakan kemarin.

Ia datang didampingi jajaran pejabatnya.

”Terima kasih. Budaya-budaya desa harus dilestarikan. Kegiatan seperti harus diketahui masyarakat Jepara, kalau bisa diperluas.

Karena masing-masing desa punya budaya masing-masing. Kami minta para pejabat untuk hadir di tiap acara budaya desa,” tegas Edy. (rom/him)

Editor : Abdul Rochim
#ricuh #jepara #jembul tulakan #festival