JEPARA, RADARPATI.ID – Bandara Dewadaru Karimunjawa hingga saat ini masih belum melayani penerbangan komersial.
Menyikapi itu, pihak otorita Bandara Dewadaru, mengupayakan agar bisa membuka rute penerbangan perintis terlebih dahulu.
Lewat itu, nantinya diharapkan bisa merangsang kehadiran maskapai komersil membuka rute ke Karimunjawa.
Itu disampaikan Kepala Bandara Dewadaru Karimunjawa Ariadi. Menurutnya, saat ini kebetulan di wilayah Karimunjawa memang memerlukan kehadiran penerbangan perintis. Itu bisa jadi opsi pilihan moda transportasi untuk ke Karimunjawa.
Saat ini, yang ditunggu adalah permintaan penerbangan perintis itu bisa disetujui atau tidak. Proses pengajuannya telah dilakukan.
Diketahui, untuk sampai di Kecamatan terluar Kabupaten Jepara itu, sejauh ini hanya bisa diakses dengan moda transportasi laut.
”Karimunjawa memerlukan pesawat perintis. Jika ombak sedang tinggi maka tidak jarang transportasi laut terputus bahkan setahun lalu ada wisatawan tertahan, termasuk bahan pokok,” kata Ariadi.
Lewat hadirnya penerbangan perintis itu, menurutnya bisa jadi upaya untuk mengoptimalkan Bandara Dewadaru yang baru saja dilakukan peningkatan setahun lalu.
”Kami sedang mengusahakan pesawat perintis dari Surabaya-Karimunjawa-Semarang PP. Sebagai "rangsangan" maskapai terbang ke Karimunjawa. Surat dukungan Bupati sudah ada, permohonan juga sudah ditujukan,” imbuh Ari.
Bandara Dewadaru selama ini melayani penerbangan pesawat jenis ATR 72 dari dan menuju Bandara Ahmad Yani Semarang.
Saat itu baru terdapat satu maskapai yang melayani secara reguler tiga kali dalam sepekan. Namun, sejak adanya pandemi Covid-19 sekitar Maret 2020 lalu, sudah tidak ada penerbangan komersial.
Bandara Dewadaru hanya melayani penerbangan unscheduled flight.
Ariadi mengakui, kendala usai pandemi dalam dunia penerbangan adalah pesawat jenis ATR 72 mulai berkurang.
”Selain itu faktor ritasi pesawat. Misal dari Karimunjawa ke Semarang, nah dari Semarang mau terbang kemana lagi, dari situ kemana, sehingga terpenuhi target terbang dari satu hari,” tandas Ariadi. (rom/zen)
Editor : Achmad Ulil Albab