JEPARA, RADARPATI.ID — Sejumlah warga Desa Padurenan, Kudus, mengalami gatal-gatal. Diduga menggunakan air yang tercemar limbah pabrik tahu dari wilayah Daren, Nalumsari, Jepara.
Warga terdampak harus berobat karena gatal-gatal di kulit setelah menggunakan air yang diduga tercemar limbah tersebut.
Kejadian ini sudah berlangsung sejak lama. Namun masalah belum bisa diatasi dengan efektif dan optimal.
Petinggi Desa Daren, Edy Khumaedi mengatakan pihaknya telah memperingatkan pabrik yang dimaksud untuk membuat pengelolaan limbah yang baik karena tempat pengelolaan sebelumnya sudah penuh. Edy mengatakan, akibat cemaran itu warga Desa Daren turut terkena dampak bau yang ditimbulkan.
Sementara itu, Kepala Desa Padurenan Thoni Hermawan mengungkapkan masalah itu sudah berlangsung lama, sekitar 2010.
Namun belum ditemukan solusi yang pas. Pihaknya berencana bersurat kepada Pj Bupati Kudus, Polres Jepara serta Polres Kudus mengenai masalah limbah.
Sehingga muncul solusi yang diharapkan. Pasalnya, 12 warganya sudah terkena gatal-gatal setelah menggunakan air sungai atau air sumur yang juga tercemar air tersebut.
“Paling parah kalau musim kemarau. Baunya luar biasa. Kami juga butuh air bersih lebih banyak kan pada musim kemarau itu. Kalau musim hujan begini mending karena airnya larut dengan air hujan,” kaya Kades Padurenan Thoni Hermawan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aris Setiawan melalui Kepala Bidang Penataan dan Penataan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Hermawan Oktavianto mengungkapkan pihaknya telah mencoba menyikronkan keluhan tersebut dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus.
Termasuk mendatangi pabrik tahu yang diduga melakukan pencemaran bersama dengan Satpol PP Jepara.
Baca Juga: Macet, Jalur Kudus-Jepara Ditempuh Tiga Jam, Ini Penjelasannya
Ia mengatakan, pabrik tahu yang ada di Kabupaten Jepara mayoritas tidak memenuhi syarat. Menurutnya, perlu ada pembinaan kepada industri kelas menengah seperti pabrik tahu agar tumbuh kesadaran soal pengelolaan limbah.
“Kami sudah mengusulkan pembangunan biodigester itu juga kepada dinas provinsi terkait, waktu itu dibangunkan di Desa Pecangaan Wetan. Tapi akhirnya biodigesternya tidak berfungsi karena usaha pabrik tahunya bangkrut. Biodigesternya jadi tidak terawat. Padahal bangunnya cukup mahal, itu satunya Rp 200 juta. Kami sudah usaha maksimal. Menurut kami ini perlu perhatian bukan dari satu dinas saja tapi juga dinas lain yang membidangi usaha UMKM,” jelas Wawan. (nib/war)