KENDAL – Sebanyak 164 balita di wilayah kerja Puskesmas Patebon II, Kabupaten Kendal, mengalami masalah gizi.
Dari jumlah tersebut, sembilan anak masuk kategori gizi buruk, sedangkan 155 lainnya mengalami gizi kurang.
Pemerintah menyalurkan bantuan beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sasaran.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan pengeluaran rumah tangga sekaligus mendukung pemenuhan asupan gizi anak.
Baca Juga: Gubernur Luthfi: Kemerdekaan Harus Terasa hingga Masyarakat Kecil
Kepala Puskesmas Patebon II, drg. Titin Sri Sahadatin, mengatakan wilayah kerjanya mencakup sembilan desa.
Kondisi masalah gizi di setiap desa berbeda, dengan Desa Purwokerto dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah desa lainnya.
“Untuk gizi buruk hanya sembilan anak. Sementara, yang gizi kurang jumlahnya lebih banyak,” ujarnya saat penyerahan bantuan beras CPP di Balai Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan ketentuan bantuan yang disampaikan, setiap balita dengan gizi buruk memperoleh 15 kilogram beras.
Sementara itu, balita dengan gizi kurang menerima 10 kilogram beras.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari berharap bantuan tersebut dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak.
Menurutnya, beras yang diterima dapat mengurangi pengeluaran keluarga untuk membeli kebutuhan pokok.
Dengan demikian, sebagian dana yang tersedia bisa dialihkan untuk membeli lauk-pauk, terutama sumber protein hewani.
“Harapannya, uang untuk membeli beras bisa digunakan untuk membeli lauk pauk bergizi, terutama bagi anak-anak,” katanya.
Balita Mendapat Pendampingan Kesehatan
Selain bantuan beras, balita yang mengalami masalah gizi juga memperoleh dukungan melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Mereka juga mendapatkan makanan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Titin menjelaskan, bantuan pangan menjadi dukungan tambahan bagi keluarga dalam memperbaiki asupan makanan anak.
Namun, penanganan masalah gizi juga dilakukan melalui pemantauan kesehatan secara berkala.
Puskesmas Patebon II menjalankan Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT).
Pemeriksaan lanjutan diberikan kepada balita yang berat badannya tidak mengalami kenaikan saat penimbangan di posyandu.
Melalui pemeriksaan tersebut, petugas berupaya mengetahui penyebab berat badan anak tidak bertambah, termasuk kemungkinan adanya infeksi tuberkulosis (TBC).
Apabila ditemukan indikasi atau hasil pemeriksaan yang menunjukkan infeksi, anak akan mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai kondisi kesehatannya.
Upaya tersebut diharapkan membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini, sehingga balita yang mengalami gangguan pertumbuhan bisa memperoleh pendampingan dan penanganan yang sesuai. (*)