Produk UMKM Jateng Singkong Naik Kelas, Disulap Jadi Mocaf hingga Es Krim

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 16:40 WIB
Dari Singkong Jadi Es Krim, Ahmad Luthfi Tekankan Pentingnya Nilai Tambah Pangan Lokal Jawa Tengah. (HUMAS JATENG)
Dari Singkong Jadi Es Krim, Ahmad Luthfi Tekankan Pentingnya Nilai Tambah Pangan Lokal Jawa Tengah. (HUMAS JATENG)

RADARPATI.JAWAPOS.COM, SEMARANG – Singkong selama ini banyak dikenal sebagai bahan pangan sederhana.

Namun, di tangan pelaku usaha yang berinovasi, komoditas tersebut bisa berubah menjadi tepung mocaf, es krim, bahkan produk turunan lain dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Potensi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana pangan lokal Jawa Tengah dapat menjadi penggerak ekonomi jika tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.

Baca Juga: ASN Pemkot Pekalongan Terobos Jalan Cor Basah, Sudah Di-SP dan Diproses Sanksi

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong pelaku UMKM untuk mengembangkan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.

Menurutnya, peningkatan kualitas, penguatan merek, legalitas, sertifikasi, hingga perluasan pasar menjadi bagian penting agar UMKM bisa berkembang.

“Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas,” kata Luthfi saat menghadiri Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (1/10/2026).

Jawa Tengah memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor tersebut.

Berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM 2025, jumlah UMKM di Jawa Tengah mencapai sekitar 4,06 juta usaha.

Dari jumlah tersebut, sekitar 97,95 persen merupakan usaha mikro.

Luthfi menilai besarnya jumlah pelaku usaha harus dibarengi upaya agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu meningkatkan skala bisnisnya.

UMKM yang ada di Jawa Tengah harus bisa mengambil peluang tersebut.

"Pangan lokal jangan berhenti sebagai komoditas. Harus ada nilai tambah sehingga yang tumbuh bukan hanya produknya, tetapi juga usahanya, lapangan kerjanya, dan ekonomi daerahnya,” ujarnya.

Pemprov Jateng juga memberikan pendampingan serta pembinaan kepada pelaku UMKM.

Dari sisi pembiayaan, dukungan diberikan melalui Bank Jateng dengan fasilitas kredit berbunga rendah.

Namun, pengembangan usaha dinilai membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga sektor kreatif diperlukan agar rantai usaha dari bahan baku sampai pemasaran dapat berjalan.

Salah satu contohnya ditampilkan melalui program Lumbung Karya Indonesia.

Program tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan kurasi, pendampingan, sekaligus pembinaan guna meningkatkan kualitas produk.

Luthfi mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap agenda serupa dapat digelar secara rutin.

Pihaknya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia karena merupakan salah satu kesempatan emas bagi seluruh masyarakat dan pelaku usaha.

Ini untuk menampilkan karya dan inovasi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau bisa event seperti ini dilakukan setiap bulan,” katanya.

Singkong Cilacap Jadi Mocaf hingga Es Krim

Salah satu inovasi yang mendapat penghargaan dalam Lumbung Karya Indonesia adalah Nirbaya Mocaf yang diinisiasi Lapas Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap.

Produk tersebut memanfaatkan singkong dari Cilacap dan wilayah sekitarnya. Komoditas tersebut tidak langsung dijual sebagai bahan mentah.

Tetapi diolah menjadi tepung mocaf dan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk pangan.

Salah satunya adalah es krim dengan sekitar 80 persen bahan baku berasal dari singkong.

Tidak hanya bagian umbinya yang dimanfaatkan. Kulit singkong juga diolah menjadi gula yang kemudian digunakan untuk membuat kombucha.

Sementara ampas kulit singkong dimanfaatkan sebagai pakan ayam petelur.

Kalapas Nirbaya Nusakambangan Helmi Najih mengatakan, bahan baku singkong diperoleh dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk hasil budidaya yang dilakukan warga binaan.

“Semua bahan singkong kami ambil dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk dari kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami membeli dengan harga sesuai yang ditetapkan pemerintah,” jelas Helmi.

Dalam satu pekan, Nirbaya Mocaf mampu mengolah sekitar dua ton singkong.

Tepung mocaf yang dihasilkan kemudian dikembangkan menjadi sejumlah produk turunan.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa satu komoditas bisa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih luas ketika mendapatkan sentuhan pengolahan dan kreativitas.

Staff Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Sugeng Santoso mengatakan, kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki basis ekonomi yang kuat karena ditopang sektor pertanian dan industri pengolahan.

Pengembangan produk pangan lokal dapat menjadi titik temu antara ketersediaan bahan baku, inovasi, kreativitas, dan pasar.

Dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia, sejumlah pelaku usaha juga menerima penghargaan dalam berbagai kategori.

Di antaranya Tococo Indonesia sebagai Best Local Roots Innovation, Nirbaya Mocaf untuk Best Innovation & Transformation, PT Allisha Gesang Sejahtera sebagai Best Business Readiness, Dalem Wangi untuk Most Impactful & Replicable, serta Cumi Item Rasa Yang Berkah sebagai Best Growth Potential.

Berbagai produk tersebut memperlihatkan bahwa komoditas lokal memiliki peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi lebih besar ketika diikuti inovasi, pendampingan, pembiayaan, legalitas, penguatan merek, dan akses pasar.(*)

Editor : Abdul Rochim
pangan lokal Jawa Tengah singkong mocaf Nirbaya Mocaf UMKM Jawa Tengah Lumbung Karya Indonesia