KUDUS – Pameran Temporer Cagar Budaya Abirama Purbakala Patiayam di Kompleks Museum Situs Purbakala Patiayam, Jekulo, diresmikan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris.
Ada 25 stan dari berbagai penggiat budaya dan museum besar yang ada di Jawa Tengah (Jateng).
Meliputi, Museum Ranggawarsito, Museum Song Terus Pacitan, Museum BPK RI Magelang, Museum Masjid Agung Demak, hingga Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X.
Pembukaan acara disuguhkan atraksi tarian purbakala yang menceritakan peradan masa lampau.
Bupati Kudus Sam’ani menyempatkan untuk keliling melihat beberapa stan. Salah satunya di Museum Song Terus Pacitan.
Ia melihat replika temuan fosil manusia purba. Kemudian artefak batu sebagai alat meramu dan koleksi lain.
Pameran ini cukup menarik. Pihaknya menimbang acara semacam ini bisa diadakan setiap tahun dan mengerahkan siswa untuk datang serta melihat sebagai edukasi tenta temuan fosil zaman prasejarah.
"Saya yakin banyak yang tidak tahu, sehingga perlu dilakukan kegiatan semacam ini,” ungkapnya.
Ia juga menghampiri pengrajin bambu dari Desa Bulungcangkring, Jekulo, Kudus, yang membuat kerajinan dari enceng gondok.
Produk yang dihasilkan berupa tas, sandal, tempat tisu, dan mangkok yang ada tutupnya. Biasanya dipesan untuk suvenir.
Kemudian, dilanjut lagi ke stan Museum Ranggawarsito yang menyimpan selendang toh watu asli buatan perajin asal Kecamatan Gebog.
Bupati Kudus Sam’ani mengatakan, selendang ini bisa dijadikan suvenir untuk syal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah menuturkan, Pameran Abirama Purbakala Patiayam ini, bertujuan memperkenalkan dan mempromosikan warisan budaya masa lalu kepada masyarakat luas.
Selain itu, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Abirama diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti kesinambungan.
"Tema ini kami pilih untuk menegaskan, bahwa peradaban masa lalu merupakan salah satu pondasi penting dalam pembangunan kebudayaan saat ini dan masa depan,” jelasnya.
Apalagi, keberadaan Situs Purbakala Patiayam memiliki nilai strategis dan sejarah panjang tentang kehidupan, identitas, dan kearifan lokal pada masa lampau. Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jejaring.
”Antarmuseum untuk mendukung misi kebudayaan nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” imbuhnya. (san/lin)
Editor : Abdul Rochim