Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dulu Kuasai Pasar Dunia, Kini Bangkrut! Kisah Jatuhnya Sritex, Sang Raksasa Tekstil

Abdul Rochim • Kamis, 6 Maret 2025 | 07:53 WIB

PAILIT : Kondisi PT Sinar Pantja Djaya di Semarang Barat yang diputus pailit Pengadilan Niaga Semarang. (IDA FADILAH/RadarPati.ID)
PAILIT : Kondisi PT Sinar Pantja Djaya di Semarang Barat yang diputus pailit Pengadilan Niaga Semarang. (IDA FADILAH/RadarPati.ID)
 

SUKOHARJO, RadarPati.ID – Perusahaan tekstil kebanggaan Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), resmi dinyatakan pailit dan tutup pada 1 Maret 2025.

Perusahaan yang pernah merajai pasar lokal hingga internasional ini akhirnya tak mampu bertahan setelah menghadapi berbagai tantangan berat.

Namun, di balik kejayaan dan kejatuhannya, siapa sebenarnya sosok di balik Sritex?

Baca Juga: Gara-Gara Oleh-Oleh, Rekan Kerja Duel hingga Berdarah! Endingnya Bikin Haru

Kisah Sritex bermula dari sebuah kios sederhana bernama UD Sri Rejeki di Pasar Klewer, Solo, yang didirikan oleh Haji Muhammad Lukminto pada 1966.

Berkat kerja keras, ia mendapat julukan "Raja Batik" dan berhasil mengembangkan bisnisnya.

Pada 1972, Lukminto merelokasi usahanya ke Desa Jetis, Sukoharjo, dan mendirikan PT Sri Rejeki Isman, yang kemudian dikenal sebagai Sritex.

Puncaknya, pada 3 Maret 1992, Presiden Soeharto meresmikan pabrik Sritex bersama ratusan industri lain di Surakarta.

Keberhasilan Sritex tak hanya di pasar lokal.

Pada 1992, perusahaan ini mulai menembus pasar Eropa dan sukses memasok seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman, membuktikan kualitasnya di kancah internasional.

Sritex tumbuh menjadi raksasa tekstil Asia Tenggara, memproduksi rata-rata 24 juta potong kain per tahun untuk 40 negara.

Bahkan, brand fashion global seperti Uniqlo, Zara, JCPenney, New Yorker, Sears, dan Walmart menjadi klien tetapnya.

Setelah H.M. Lukminto wafat pada 2014, kepemimpinan Sritex dipegang oleh anak-anaknya.

Iwan Setiawan Lukminto membawa perusahaan semakin berkembang, bahkan merambah bisnis perhotelan.

Pada 2013, Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (kode saham: SRIL), mengantarkan Iwan ke daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada 2020 dengan kekayaan mencapai $515 juta (sekitar Rp 8,5 triliun).

Namun, di tengah kesuksesannya, Sritex mulai menghadapi tekanan ekonomi global, utang besar, dan perubahan tren industri tekstil.

Di bawah kepemimpinan Iwan Kurniawan Lukminto, Sritex berusaha bertahan.

Tetapi akhirnya resmi dinyatakan pailit pada 1 Maret 2025.

Kejatuhan Sritex menjadi pukulan bagi industri tekstil Indonesia, meninggalkan pertanyaan besar: Apakah kejayaan industri tekstil nasional bisa bangkit kembali? (tas/him)

Niat shalat Tahajjud (Foto : https://bersamadakwah.net/sholat-tahajud/)
Niat shalat Tahajjud (Foto : https://bersamadakwah.net/sholat-tahajud/)
Editor : Abdul Rochim
#tekstil #raksasa #tutup #pailit #Sritex