Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

HEBOH! Tradisi Dugderan Semarang, Perayaan Spektakuler Jelang Ramadan yang Sudah Berusia Lebih dari Seabad!

Abdul Rochim • Senin, 3 Maret 2025 | 09:32 WIB
Dugderan di Balaikota Semarang (dok Radar Semarang)
Dugderan di Balaikota Semarang (dok Radar Semarang)

SEMARANG, RadarPati.ID – Perayaan Dugderan kembali digelar di Kota Semarang sebagai tradisi tahunan menyambut bulan suci Ramadan.

Acara ini bukan sekadar festival biasa atau pada umumnya.

Namun, ini adalah warisan budaya yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad dan menjadi ciri khas kota yang dikenal dengan lumpianya ini.

Nama Dugderan sendiri berasal dari suara tabuhan bedug "dug dug" dan letusan meriam "der", yang menjadi anda resmi dimulainya bulan puasa.

Tradisi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1881 oleh Bupati Semarang saat itu, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Kala itu, masyarakat masih kesulitan menentukan awal Ramadan.

Sehingga dibuatlah pengumuman resmi dengan membunyikan bedug di Masjid Agung dan meriam bambu di halaman kabupaten sebanyak tiga kali.

Sejak saat itu, Dugderan menjadi tradisi yang tak hanya berfungsi sebagai penanda Ramadan.

Tetapi juga memadukan budaya dan agama dalam satu perayaan meriah.

Ritual ini diawali dengan pemukulan bedug dan ditutup dengan letusan mercon serta kembang api.

Hal tersebut melambangkan kegembiraan menyambut Ramadan sekaligus kebahagiaan menjelang Idul Fitri.

Dugderan juga dimeriahkan dengan pawai budaya dan pasar rakyat yang menjajakan beragam kerajinan, permainan tradisional, serta kebutuhan Ramadan.

Salah satu ikon khas Dugderan adalah Warak Ngendog, makhluk rekaan bertubuh kambing, berkepala naga, dan bersisik warna-warni.

Simbol ini mencerminkan harmoni masyarakat Semarang yang multikultural.

Serta menggambarkan masa ketika telur dianggap sebagai makanan mewah akibat krisis pangan.

Usai perayaan Dugderan, acara ditutup dengan halaqah yang menandai awal Ramadan secara resmi, ditandai dengan pemukulan bedug.

Hingga kini, tradisi ini terus dilestarikan sebagai kebanggaan warga Semarang.

Juga menjadi daya tarik wisata budaya yang tak boleh dilewatkan. (dka)

Editor : Abdul Rochim
#Dugderan #Kegembiraan #semarang #tradisi #sambut ramadan