GROBOGAN, RadarPati.ID - KEBERADAAN Trans Jateng koridor Terminal Penggaron (Semarang)-Terminal Godong (Grobogan) sejak 2021 sampai 2024 ini ternyata mendapat antusias tinggi.
Terbukti load factor (LF) atau keterisian penumpang sebesar 86,83 persen di Oktober.
Bahkan, pada September sempat mendapatkan rekor LF yang mencapai 97,19 persen. Kondisi tersebut sempat mendapatkan apresiasi dari provinsi Jateng.
Kabupaten Grobogan masuk kawasan Kedungsepur termasuk beruntung.
Karena tiba-tiba dipercaya memiliki layanan transportasi BRT Trans Jateng, yang seharusnya beroperasi ke wilayah Demak.
Bus berukuran medium ini menampung 40 penumpang.
Di dalamnya terdiri dari 21 kursi duduk, dua diantaranya merupakan kursi prioritas, kemudian 19 untuk berdiri dilengkapi dengan 20 hand grip.
Desain bus tersebut terdapat 14 ikon tiga kabupaten/kota Semarang, Demak, dan Grobogan.
Antaranya wisata Goa Lawa, Api Abadi Mrapen, Air Terjun Widuri dan Bledug Kuwu.
Kemudian meliputi Kabupaten Demak dengan menampilkan ikon Masjid Agung dan Semarang menampilkan kota lama serta ikon Jawa Tengah.
Trans Jateng memiliki 14 armada dengan rute yang dilalui meliputi Halte Penggaron, SAI Aparel, RS Pelita Anugerah, Pasar Mranggen, Luwes SD Mranggen, PT Cipta Wijaya, Kuripan RRI, PT Arisa, MTsN 2 Demak, SMPN 1 Karangawen, Pasar Karangawen, PT Mulia Wijaya, Pasar Tegowanu, Puskesmas Tegowanu, Kantor Desa Tegowanu Wetan.
Kemudian Halte Gebangan, PT Formosa, PT Holi, SMAN 1 Gubug, Terminal Gubug, RSUD Gubug, Pilang Wetan, Desa Tinanding, Pertigaan Mintreng, SMAN 1 Godong, SMP Kebonagung, Desa Mijen, PT SAE Aparel, PT Malindo, Desa Werdoyo, Desa Rajek, Desa Paseban, PT Cargil, Puskesmas Godong 1, SMA Muhammadiyah 1 dan Terminal Godong.
Saat masuk, pramujasa menertibkan supaya penumpang tak berdesakan.
Sampai dalam bus, petugas memberikan tiket bagi masyarakat umum Rp 4 ribu dan bagi pelajar, veteran hingga pekerja yang beridentitas hanya Rp 2 ribu. Penumpang harus membawa uang cash dan pas.
Di dalam bus tersebut terdapat running teks dan sounding sebagai pengingat penumpang.
Lantaran tertuliskan rute pemberhentian selanjutnya.
Namun, juga dimudahkan dengan aplikasi Si Anteng, penumpang bisa mengecek rute dan waktu kedatangan bus.
Sehingga bisa memantau kepastian pelayanan.
Sebelum beroperasional, Balai Trans Jateng akan berupaya mengoptimalkan layanan penumpang.
Di 51 bus stop dan halte, setiap bus harus berhenti meskipun tidak ada penumpang.
Waktu berhenti di setiap bus stop dan halte sekitar 2 detik sampai 50 detik.
Tidak boleh terlalu lama, tapi harus berhenti meskipun saat di bus stop dan halte tidak ada penumpang yang naik maupun turun.
Ada 14 armada bus yang beroperasional setiap harinya. Tujuh ke barat dan tujuh ke timur.
Karena yang dilalui merupakan kawasan industri, antisipasi jam puncak saat karyawan pulang kerja melakukan pemadatan jam pelayanan.
Jika biasanya 15 menit headway, kini harus 5-7 menit agar tidak ada penumpukan penumpang. (Int/zen)
Editor : Abdul Rochim