KUDUS, RADARPATI.ID - Dapur umum di lokasi pengungsian Terminal Jati Kudus memproduksi hingga 7500 nasi bungkus per hari.
Warga dan petugas dapur umum yang membantu lembur hingga pukul 01.00 (dini hari).
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin pagi, bantuan logistik dari donatur untuk pengungsi terus berdatangan.
Ada bantuan pakaian, alat mandi, hingga bahan makanan.
Eva, warga asal Desa Krandon Kecamatan Kota mengatakan, sejak adanya dapur umum yang didirikan sejak Kamis (8/2) dia terbiasa lembur memasak hingga dini hari.
"Saya muter terus, tidak hanya membantu di pengungsian di Terminal Jati, namun juga ditempat pengungsian yang lain.
Seringnya pukul 01.00 baru bisa pulang," ujarnya.
Kabid Perlindungan Jaminan Sosial dan Rehabilitasi Sosial Dinsos P3AP2KB Kudus Anik Yuliati mengatakan, dapur umum memproduksi 7500 nasi bungkus yang dibagikan setiap pagi, siang, dan malam.
"Mulai hari ini (kemarin) pengambilan kebutuhan makanan untuk pengungsi dipusatkan di terminal," ujarnya.
Jumlah yang dihasilkan dapur umum itu, kata dia, memang jauh lebih banyak dari jumlah pengungsi yang tercatat di Kudus saat ini.
Apalagi dalam sehari bisa menghasilkan 7500 nasi bungkus.
Nasi bungkus juga diperuntukkan bagi warga Demak yang mengungsi di rumah warga Kudus.
Ada beberapa desa di Kudus yang sudah melaporkan adanya pengungsi.
Setidaknya ada 11 titik warga Demak yang tinggal di rumah warga Kudus.
Selain itu juga untuk beberapa sopir yang masih terjebak di area jembatan Tanggulangin.
"Petugas dapur umum, sudah dibagi-bagi waktunya secara shif, ada yang dari warga, relawan, petugas dari Dinsos (termasuk Tagana, dan PKH) hingga pengungsi juga ikut memasak," katanya.
Petugas dapur umum bekerja non stop untuk memasak.
Untuk jatah makan pagi, persiapan memasakan sudah mulai dilaksanakan pada pukul 23.00.
Sementara untuk makan siang, memasak dimulai pukul 09.00.
Dan pukul 14.00 sudah mulai memasak untuk jatah makan malam.
"Kami belum tahu harus di sini sampai kapan, karena belum ada instruksi," imbuhnya. (ark/him/amr)