Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Mengenal Tradisi Tuk Panjang Menyambut Imlek di Pasar Semawis Pecinan Semarang, Maknanya Keren Banget

Achmad Ulil Albab • Minggu, 11 Februari 2024 | 04:59 WIB
AKULTURASI : Warga mengikuti acara Tuk Panjang yang digelar di Kawasan Gang Warung, atau Pasar Semawis, Pecinan Semarang, Kamis (8/2) malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKULTURASI : Warga mengikuti acara Tuk Panjang yang digelar di Kawasan Gang Warung, atau Pasar Semawis, Pecinan Semarang, Kamis (8/2) malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

 

 

 

SEMARANG, RADARPATI.ID - Akulturasi budaya dan kerukunan antarumat beragama jelang tahun baru Imlek 2575, digelar tradisi Tuk Panjang di Kawasan Gang Warung, atau Pasar Semawis, Pecinan Semarang, Kamis (8/2) malam.

Berbagai hidangan disuguhkan dalam acara tersebut. 

Seperti kue keranjang kukus santan yang melambangkan harapan tutur kata yang baik, ada pula nasi hainan, tujuh macam sayur hijau yang merupakan yang masing-masing punya lambang dan harapan yang baik.

Serta berbagai menu lain seperti lunpia, dan aneka makanan sebagai wujud akulturasi budaya.

Adapun hidangan yang ada, dimakan bersama-sama di meja yang ditata kurang lebih 200 meter.

Selain keturunan Tionghoa, tradisi ini juga dihadiri masyarakat umum, perwakilan keagamaan, serta beberapa pejabat dari Pemkot Semarang. 

"Tradisi ini biasanya dilakukan orang Tionghoa di rumah orang paling tua, karena keluarga yang datang banyak, akhirnya banyak meja yang disusun memanjang," kata Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Harjanto Halim.

Harjanto menjelaskan, tradisi ini coba diangkat ke jalan sebagai wujud keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama.

Warga sekitar, tokoh agama, tokoh masyarakat diajak duduk dan makan bersama untuk menyambut Imlek.

"Kita ajak semua elemen masyarakat agar terwujud keharmonisan dan kerukunan," bebernya.

Dalam acara tersebut, juga diresmikan mural yang mewujudkan kehidupan, serta kerukunan umat beragama di Pecinan Semarang.

Tujuannya lainnya adalah untuk menekan daerah kumuh di kawasan tersebut agar lebih indah.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang R. Wing Wiyarso menambahkan, prosesi Tuk Panjang ini rutin dilakukan di Kawasan Pecinan untuk menyambut tahun baru Imlek.

"Ini ada filosofinya, makan bersama yang mewujudkan kerukunan umat beragama karena ada berbagai macam etnis yang ikut memeriahkan," jelasnya.

Maryati, salah satu warga Kranggan, mengaku jika persatuan dan persaudaraan antar etnis di Kawasan Pecinan sudah lama melekat, bahkan ada perbedaan etnis antara Jawa, Tionghoa atau etnis lainnya.

"Di sini tidak ada perbedaan, intinya semua sama," tegasnya. (den/ton) 

SAMPAIKAN HARAPAN KEBAIKAN : Rohaniwan Khonghucu, Hartono Herlin. (francelino junior)
SAMPAIKAN HARAPAN KEBAIKAN : Rohaniwan Khonghucu, Hartono Herlin. (francelino junior)
Editor : Achmad Ulil Albab
#Semawis #akulturasi #semarang #tradisi #pasar #Tuk Panjang